Ibadah Haji 2020 Terancam Gagal, Adakah Hubungannya dengan Tanda Kiamat?

  • Whatsapp
Menteri haji Arab Saudi meminta umat Islam di seluruh dunia untuk menunda sementara persiapan ibadah haji tahun ini. Foto/Bandar Al-Dandani/AFP

Bahkan, Allah telah menyatakan dalam Al-Quran, Allah telah menjadikan Ka‘bah rumah suci itu sebagai pusat (peribadatan dan urusan dunia) bagi manusia, (QS. al-Maidah [5]: 97).

Ditafsirkan oleh al-Hasan al-Bashri, manusia akan senantiasa memeluk agama (Islam) selama mereka masih berhaji ke Baitullah dan menghadap Kiblat (Ka‘bah). Seandainya manusia tidak lagi berhaji ke Baitullah, niscaya Allah akan melipat langit dengan bumi alias Kiamat.

Bacaan Lainnya

Sehingga seandainya hanya satu tahun saja manusia meninggalkan Baitullah, sebagaimana menurut ‘Atha ibn Abi Rabah, mereka tidak dianggap binasa, (Lihat: Ibnu Hajar, Fathul Bari, jilid 3, hal. 455). Justru terhentinya ibadah haji dan umrah terjadi setelah Baitullah dihancurkan oleh orang-orang berbetis kecil dari Habasyah. (Lihat: at-Taisir bi Syarh al-Jami‘ ash-Shaghir, jilid 2, hal. 498).

Informasi ini bersumber dari hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam yang juga diriwayatkan oleh al-Bukhari.

يُخَرِّبُ الكَعْبَةَ ذُو السُّوَيْقَتَيْنِ مِنَ الحَبَشَةِ

Artinya, “Ka’bah akan dihancurkan oleh orang-orang berbetis kecil dari Habasyah.”

كَأَنِّي بِهِ أَسْوَدَ أَفْحَجَ، يَقْلَعُهَا حَجَرًا حَجَرًا

“Seakan-akan aku melihat seorang berkulit hitam dan berkaki bengkok mencabuti satu persatu batu Ka‘bah.”

Lebih lanjut, hadits ini dijelaskan oleh Ibnu Hajar. Ka‘bah memang akan dihancurkan oleh orang-orang berbetis kecil dari Habasyah. Namun, kemudian datang seorang laki-laki warga Qahthan yang akan melawan dan membinasakan mereka.

Sementara orang-orang mukmin sebelum kejadian itu masih menunaikan ibadah haji, tepatnya pada zaman Nabi Isa setelah keluar dan binasanya Ya‘juj-Ma’juj. Kemudian datang angin yang akan mencabut ruh orang-orang mukmin. Mulai dari orang-orang mukmin pasca Nabi Isa ‘alaihissalam dan berakhir di penduduk Yaman. (Lihat: Ibnu Hajar, Fathul Bari, jilid 13, hal. 78).

Pertanyaannya kemudian, bagaimana mungkin Allah membiarkan penguasa berkepala botak dan berkaki bengkok itu menghancurkan Ka‘bah, sementara Ka‘bah itu sendiri adalah kiblatnya kaum Muslimin. Jawabannya adalah karena pada akhir zaman, tepatnya menjelang Kiamat, tidak ada seorang pun di muka bumi yang menyebut asma Allah, dan kondisi manusia sudah sangat rusak, sebagaimana yang telah ditegaskan dalam Shahîh Muslim:

لَا تَقُومُ السَّاعَةُ عَلَى أَحَدٍ يَقُولُ: اللهُ اللهُ

“Tidak akan terjadi Kiamat sampai tidak ada seorang pun di muka bumi yang menyebut-nyebut asma Allah.”

لَا تَقُومُ السَّاعَةُ إِلَّا عَلَى شِرَارِ النَّاسِ

“Tidak berdiri Kiamat kecuali kondisi manusia sudah sangat buruk,” (HR. Abu Dawud). Sementara dalam hadis riwayat Sa‘id ibn Sam‘an dikatakan, “Setelah itu, ke Baitullah tidak lagi ada yang menunaikan ibadah umrah selamanya.”

Namun, semua peristiwa memilukan itu terjadi beberapa waktu pasca wafatnya Nabi Isa ‘alaisissalam. Sebab, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah mengisyaratkan bahwa setelah muncul Ya’juj dan Ma’juj Baitullah masih akan dikunjung para jamaah haji. Kendati demikian, kapan pastinya terjadi Kiamat, “Sesungguhnya hanya pada sisi Allah pengetahuan tentang Hari Kiamat” (QS. Luqman [31]: 34). Wallahu a’lam.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *