Internasional

Indonesia Imbau Pengurangan Sampah Plastik Global

The 11th Open-Ended Working Group (OEWG) of the Basel Convention, di Jenewa pada 3-6 September 2018. (Foto: PTRI Jenewa)

Jenewa: Bertambahnya volume sampah plastik menjadi masalah yang perlu ditangani serius. Sea Education Association memperkirakan bahwa 8.3 miliar ton plastik telah diproduksi sejak 1950. 

Plastik memiliki efek samping besar bagi lingkungan karena sulit terurai akibat panjangnya rantai karbon. Pencemaran plastik dikhawatirkan mengganggu ekosistem dan menimbulkan kerusakan lingkungan.

Tidak hanya di tanah, sampah plastik juga menimbulkan dampak buruk di laut. Plastik dan partikel plastik kecil (microplastics) mencemari biota laut dan mengganggu keseimbangan ekosistem. 

Hal itulah yang menjadi perhatian serius delegasi berbagai negara pada The 11th Open-Ended Working Group (OEWG) of the Basel Convention, yang berlangsung di Jenewa pada 3-6 September 2018. 

Konvensi Basel merupakan perjanjian internasional untuk mengontrol polusi zat kimia dan limbah bahan berbahaya. Pencemaran plastik di laut menjadi topik hangat pada OEWG tersebut.

Atas prakarsa Perwakilan Tetap Republik Indonesia untuk PBB, WTO dan Organisasi Internasional Lainnya (PTRI) Jenewa, RI bersama Swiss, Norwegia, Prancis, Inggris, Uruguay dan Kolombia, menyuarakan perlunya aksi global mengurangi limbah plastik, terutama di ekosistem laut dengan menyelenggarakan High-Level Event on Marine Plastic Litter and Microplastics pada 4 September 2018 di Markas Besar PBB di Jenewa, Swiss.


The 11th OEWG of the Basel Convention di Jenewa. (Foto: PTRI Jenewa)

Dalam diskusi tersebut, Indonesia diwakili Dr. Novrizal Tahar, Direktur Pengelolaan Sampah, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan RI. Acara diskusi yang diikuti para delegasi OEWG dan Perwakilan Tetap berbagai negara dibuka oleh Direktur Eksekutif Konvensi Basel, Rolph Payet. 

Acara ini bertujuan meningkatkan kesadaran global mengenai perlunya tindakan kolektif dalam mengatasi sampah plastik laut. 

Dalam presentasinya, Dr. Novrizal menyampaikan kebijakan dan strategi pengurangan sampah plastik laut sebesar 30 persen pada 2025. Pemerintah Indonesia telah melakukan beberapa program nasional untuk meningkatkan kesadaran masyarakat dalam mengurangi penggunaan plastik.

"Indonesia secara konsisten mendukung pembahasan isu sampah plastik di laut pada berbagai forum global, termasuk Konvensi Basel, dengan harapan memperoleh dukungan peningkatan keahlian dan kapasitas kelembagaan nasional. Dengan garis pantai terpanjang nomor dua di dunia, laut dan sumber daya hayati serta non hayati di dalamnya adalah kekayaan penting bangsa Indonesia yang harus terus kita jaga," ungkap Hasan Kleib, Wakil Tetap RI di Jenewa, dalam keterangan pers yang diterima Medcom.id, Jumat 7 September 2018.

Upaya mengatasi sampah plastik di laut memerlukan kerja sama global, dimana semua negara perlu berbagi pengalaman, transfer teknologi, serta koordinasi lintas batas.
 
Indonesia sendiri telah memiliki kerja sama dengan Norwegia dalam mengatasi sampah plastik laut di Teluk Jakarta. Dengan dibawanya isu sampah plastik ini pada level global, diharapkan bentuk kerja sama pengurangan sampah plastik menjadi semakin masif, efektif dan sistematis.

Tags

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Close
Close