Indra: Pembully Anies Berasal dari Kelompok yang Khawatir Anies Suksesor Jokowi

  • Whatsapp

INDOPOLITIKA.COM – Politikus muda PKS, Indra, menilai, maraknya serangan terhadap pribadi Anies pada musim banjir ini berasal dari kelompok yang terorganisasi. Para pembully itu diduga datang dari kelompok yang khawatir Anies bakal menjadi suksesor Jokowi periode yang akan datang.

Dia mengatakan, dilihat dari pola serangannya, isu banjir yang dijadikan obyek serangan terhadap Anies diproduksi secara teratur. Dia beralasan, bila dinilai secara obyektif, dimanapun banjir terjadi di tanah air saat ini, arah serangan tidak bergeser. Sasaran bullyan justru dialamatkan kepada Anies.

Bacaan Lainnya

“Karena kalau head to head secara objektif, banjir yang terjadi di Jabar, Banten, Jateng, Jatim, termasuk di calon ibukota baru di Kaltim, kepala daerahnya tidak dibully sedemikian rupa. Tidak dicaci maki seperti yang dialami Anies,” katanya kepada Indopolitika.com Kamis (27/2/2020).

Dia mengungkap sebagian contoh. Misalnya saat peristiwa banjir pada 1 Januari awal tahun ini. Saat itu, banjir setidaknya terjadi di wilayah tiga provinsi. Yakni, Jawa Barat, Banten dan DKI. Tetapi yang dibully dan dicaci-maki di media sosial (Medsos) hanya Anies.

“Banjirnya di Bekasi, Purwakarta, Karawang, yang dimintai pertanggungjawaban Anies. Banjirnya di Tangerang, yang diminta tanggung jawab Anies. Harusnya Wahidin dong yang dimintai tanggungjawab. Bekasi ya ke Ridwan Kamil. Jadi, saya melihat ini nggak natural. Ini ada pihak-pihak yang memproduksi isu banjir, dipolitisir sehingga kebablasan. Jadinya ngaco. Banjirnya dimana nuntutnya ke Anies,” katanya.

Meski begitu, dia melihat seluruh serangan bullying terhadap Anies justru menguntungkan Gubernur DKI itu. Serangan-serangan itu, kata dia, menunjukan ekspektasi yang tinggi terhadap Anies.

“Kalau saya melihat ini sinyal bahwa ada ekspektasi dan harapan ke Anies itu tinggi. Kalau yang natural ya. Yang bukan buzzer. Ekspektasi itu sekaligus harapan. Orang punya harapan. Justru kalau orang nggak bertanya ke Jokowi berarti orang nggak punya harapan ke Jokowi,” ujarnya.

Dia berpesan kepada para tokoh dan para politisi yang menuding Anies tak becus untuk berhenti membully. Sebab, serangan bullyan kepada Anies justru memberi efek positif terhadap simpati rakyat.

“Pesan terakhir saya buat politisi, pejabat publik, tokoh-tokoh yang cuma bisa cuap-cuap ngomong nggak jelas itu, yang bilang Anies Nol, nggak kerja. Nggak bisa ngapa-ngapain. Serangan itu justru menguntungkan Anies. Orang semakin simpati buat Anies kalau semakin dibully. Salah strategi komunikasinya mereka itu,” katanya. [rif]

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *