Ini Kiprah Gus Sholah Semasa Hidupnya

  • Whatsapp

INDOPOLITIKA.COM- Salahuddin Wahid atau yang akrab disapa Gus Sholah lahir pada 11 September 1942 di Jombang, Jawa Timur dari pasangan KH Wahid Hasyim-Sholehah. Dia tumbuh di dalam keluarga Nahdlatul Ulama (NU).

Kakek Gus Sholah adalah KH Hasyim Asyari yang mendirikan NU pada 31 Januari 1926 di Surabaya. Sementara ayahnya, Wahid Hasyim, adalah Menteri Negara Urusan Agama dalam kabinet pertama Republik Indonesia. Wahid Hasyim juga diketahui turut dalam penyusunan rencana kemerdekaan RI sebagai anggota anggota BPUPKI dan PPKI.

Berita Lainnya

Gus Sholah merupakan adik kandung Presiden keempat RI, mendiang Abdurrahman Wahid atau Gus Dur. Gus Sholah remaja lulus dari SMAN 1 Jakarta. Dia lanjut menimba ilmu di Institut Teknologi Bandung (ITB) jurusan teknik arsitektur.

Dia aktif berorganisasi. Misalnya, pernah menjadi anggota senat mahasiswa ITB, Bendahara Dewan Mahasiswa ITB, Komisariat PMII ITB, Wakil Ketua PMII Cabang Bandung, serta anggota Dewan Pengurus Pendaki Gunung Wanadri.

Usai lulus dari kuliah, kegiatan berorganisasi tak ditinggalkan. Dia terus menjalaninya. Salah satunya ketika menjadi Dewan Penasihat Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI).

Pada tahun 1968, Gus Sholah menikahi Farida, putri mantan Menteri Agama Syaifudin Zuhri. Mereka dikaruniai tiga orang anak yakni Irfan Asy’ari Sudirman (Ipang Wahid), Iqbal Billy, dan Arina Saraswati.

Keaktifan berorganisasi semakin mendekatkan Gus Sholah dengan panggung politik. Tercatat, Gus Sholah ikut mendirikan Partai Kebangkitan Ulama.

Pada masa awal reformasi 1998, Gus Sholah sempat menjadi anggota MPR. Lalu dilanjut dengan menjadi Wakil Ketua Komnas HAM sejak 2002.

Gus Sholah pernah memimpin TGPF (Tim Gabungan Pencari Fakta) kasus Kerusuhan Mei 1998, kemudian Ketua Tim Penyelidik Adhoc Pelanggaran HAM Berat kasus Mei 1998.

Pada Pilpres 2004, Gus Sholah menjadi calon wakil presiden. Dia mendampingi Wiranto. Namun kedua gagal terpilih. Kala itu, pasangan Susilo Bambang Yudhoyono-Jusuf Kalla yang menang.

Pada 2006, Gus Sholah menjadi pengasuh Pesantren Tebuireng, Jombang, Jawa Timur. Pada 2010 dan 2015, Gus Sholah maju menjadi calon Ketum PBNU. Namun, Said Aqil Siradj yang terpilih.

Gus Sholah lalu menjadi anggota Dewan Etik Mahkamah Konstitusi. Kemudian dia mengundurkan diri pada 2018 karena sakit. Posisinya lalu digantikan oleh Ahmad Syafii Maarif, sesepuh Muhammadiyah.

Selama hidupnya, Gus Sholah juga suka bergelut dengan dunia literatur. Dia pun sudah menghasilkan sejumlah karya yang telah dibukukan.

Di antaranya, Negeri di Balik Kabut Sejarah (November 2001), Mendengar Suara Rakyat (September 2001), Menggagas Peran Politik NU (2002), Basmi Korupsi, Jihad Akbar Bangsa Indonesia (November 2003), Ikut Membangun Demokrasi, Pengalaman 55 Hari Menjadi Calon Wakil Presiden (November 2004).

Sejak 2018, kesehatan Gus Sholah kerap memburuk. Dia dirawat di RSUD Jombang, Jawa Timur karena sakit di bagian lambung. Dia lalu dirujuk ke RSCM Kencana, Jakarta. Kemudian pada Januari 2020, dia dirujuk ke Rumah Sakit Jantung Harapan Kita, Jakarta.

Sakit Gus Sholah semakin parah. Dokter lalu menerapkan tindakan ablasi. Namun, pada awal Februari, Gus Sholah justru dikabarkan kritis. Hal itu disampaikan putranya, yakni Irfan Hasyim alias Ipang Wahid.

Dan, akhirnya malam ini Gus Sholah pun kembali ke pangkuan Allah SWT, menyusul kakaknya, Gus Dur, yang telah wafat satu dasawarsa silam.[sgh]

Berita terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *