Irak Terus Memanas, 60 Demonstran Tewas

  • Whatsapp
Demo rusuh di Irak. (Ahmad Al-Rubaye / AFP)

INDOPOLITIKA.COM – Unjuk rasa yang berujung bentrok dengan aparat keamanan di Irak membuat lebih dari 60 orang tewas. Meski korban tewas dan luka-luka terus meningkat, warga terus berkumpul melakukan demonstrasi.

Ratusan warga berkumpul dan berjongkok di Alun-alun Tahrir, Baghdad. Sudah hampir sebulan warga Irak tak henti-henti melakukan demonstrasi untuk mendesak pemerintah terutama demonstran menuntut Perdana Menteri Adel Abdel Mahdi melakukan reformasi, melawan korupsi, dan memperbaiki perekonomian.

Baca Juga:

“Kami di sini untuk menjatuhkan seluruh pemerintahan. Untuk menyingkirkan mereka semua!” kata seorang pemrotes, seperti dikutip dari AFP, Minggu (27/10).

Aparat keamanan berusaha membubarkan aksi dengan menembakkan gas air mata. Namun, cara itu tak berhasil. Dua pengunjuk rasa justru tewas karena terkena kaleng gas air mata. Aparat juga sempat menggunakan peluru tajam untuk menekan aksi yang terus memanas.

Kondisi di Baghdad kini semakin kacau. Beberapa pengunjuk rasa naik ke atas pusat bisnis dan mengibarkan bendera Irak. Demonstran juga membakar ban di jalan-jalan yang dipenuhi sampah.

Sejumlah tenda juga didirikan para sukarelawan sebagai posko untuk membagikan makanan dan minuman kepada para pengunjuk rasa, terutama perempuan dan siswa.

Pasukan keamanan berjaga di tepi Alun-alun Tahrir. Kendaraan lapis baja juga berjaga di distrik-distrik sekitarnya.

Demonstran menuntut Perdana Menteri Adel Abdel Mahdi untuk menunaikan janji kampanye untuk memberantas korupsi dan memperbaiki perekonomian Irak. Masyarakat menyatakan jengah dengan keadaan dan maraknya praktik korupsi di Negeri 1001 Malam.

Menurut data Bank Dunia, satu dari lima warga Irak menganggur. Tingkat pengangguran mencapai 25 persen.

Padahal, menurut Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC), Irak adalah penghasil minyak bumi kedua terbesar di dunia. Namun, berdasarkan telaah lembaga non-pemerintah Transparency International, mereka menempati urutan ke-12 negara terkorup di dunia.

Ketua Ulama Syiah Irak, Ayatullah Ali al-Sistani, meminta semua pihak menahan diri. Namun, ulama Syiah yang populer di kalangan warga Irak, Muqtada al-Sadr, justru mendukung unjuk rasa itu.

Pada ajang demo pada 1 sampai 6 Oktober lalu, sebanyak 157 warga sipil meninggal akibat kekerasan aparat. Sekitar 70 persen korban mengalami luka tembak di kepala dan dada akibat peluru tajam.

Diduga sejumlah kekuatan politik turut menurunkan milisi mereka guna mendukung pemerintah. Salah satunya adalah pasukan paramiliter Hashed al-Shaabi.

Sedangkan warga Sunni dan Kurdi yang berada di utara dan barat Irak memilih menjauhkan diri dari aksi unjuk rasa. [rif]

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *