Pemerintahan

Islam Wasatiyyah; Wajah Islam yang Cinta Damai

JAKARTA – Cara beragama yang instan, tidak mempelajari Islam secara metodologis dan komprehensif menjadi salah satu faktor yang membuat generasi milenial Islam dan masyarakat perkotaan rawan terpapar radikalisme agama.

“Cara beragama yang hanya merujuk pada Al-Qur’an terjemahan dan internet tanpa bimbingan ulama dan pakar cenderung ekslusif dan tekstual sehingga sangat gampang menyalahkan bahkan mengkafirkan orang lain,” kata Dr Mulawarman Hannase, Dosen Pascasarjana Perguruan Tinggi Ilmu Al-Quran (PTIQ) Jakarta, dalam diskusi serial Ramadan dengan tema “Islam Wasatiyyah dalam Bingkai NKRI” yang digelar Kantor Staf Presiden, di Gedung Krida Bakti, Kamis, 31 Mei 2018.

Diskusi yang dihadiri Deputi IV Kepala Staf Kepresidenan Eko Sulistyo ini juga menghadirkan KH Mukti Ali Qusyairi MA, Ketua Lembaga Bahtsul Masail PWNU Jakarta, dan Tenaga Ahli Utama Kantor Staf Presiden Dr Ali Mukhtar Ngabalin.

Selanjutnya, menurut Mulawarman, faktor kedua dari munculnya paham-paham radikal dari pengetahuan agama yang diperoleh secara instan cenderung mengabaikan dimensi batiniyyah dan hanya terpaku pada dimensi lahiriyyah.

“Sehingga batinnya menjadi kering kerontang dan cenderung keras. Ia hanya terpaku pada hukum-hukum fiqih saja dan tidak mementingkan aspek spritualitas, akhlak, cinta, kelemah-lembutan yang dijarkan melalui sufisme,” jelasnya.

Ia mencontohkan Wali Songo yang menyebarkan Islam dengan akhlak mulia dan lemah lembut. Walisongo merupakan penganut tasawuf karena tidak ditemukan ajaran teroris dalam ajarannya. “Kalau percaya sama tasawuf tidak mungkin jadi teroris,” tegas Mulawarman.

Selanjutnya, model keberagamaan yang berkembang saat ini juga cenderung menafikan rasionalitas Islam. Bangunan keilmuan yang dibangun dengan susah payah oleh para ulama kita pada masa kejayaan Islam jarang dilirik oleh generasi kita saat ini. Bahkan, yang berbau-bau rasional dan filosofis cenderung diharamkan. Akhirnya, persoalan keumatan lebih sering diselesaikan dengan cara kekuatan fisik “demo” dibandingkan dengan kekuatan rasio yang bijak, dialog dan membangun argumentasi ilmiah.

Faktor keempat, generasi saat ini tidak mempertimbangkan maqashid syariah sebagai dasar pijakan dalam menjalankan ajaran Islam. Sebagai contoh, tujuan dalam kehidupan berbangsa adalah bagaimana tercapainya kemaslahatan untuk ummat Islam dan ummat manusia. Selama sistem itu memberikan maslahat besar bagi umat, itulah sistem yang Islami.

“Karena tidak menyelami tujuan-tujuan dari syariat Allah, maka sebagian kita cenderung menjalankan agama secara formalistik, tidak subtansial,” ujarnya.

Terakhir, banyak dari segolongan umat saat ini menolak aspek budaya dan seni dalam beragama. Seni musik, seni kaligrafi diharamkan, kebudayaan lokal dan bangsa ditolak. Padahal, seni merupakan aspek yang melekat pada diri manusia, ia bisa membawa kepada kelemah-lembutan dan kasih sayang.

“Ketika lima aspek ini ditolak dalam kehidupan beragama, percayalah bahwa kehidupan keberagamaan kita akan terus dibayang-bayangi oleh peradaban kekerasan, yang bertentangan dengan nilai-nilai luhur Islam yang memiliki karakter wasatiyyah,” jelasnya.

Islam wasatiyyah itu islam yang tidak berlebih-lebihan khususnya dalam praktik keagamaan dan mendukung demokrasi, Pancasila dan NKRI.

whatsapp-image-2018-05-31-at-20-21-40

Pembicara lainnya, Mukti Ali Qusyairi mengatakan, Indonesia cocok dengan konsep islam wasatiyyah karena merupakan jalan tengah atau moderat. Intelektual muda Islam ini menjelaskan bahwa Allah mencintai kelembutan terhadap segala persoalan, Rasululullah menanggapi kekerasan dengan rahmat, ampunan dan perdamaian.

“Cinta tanah air merupakan bagian dari Islam Wasatiyyah,” katanya.

Sementara Ali Mukhtar Ngabalin mengatakan bahwa Indonesia merupakan patahan surga dengan segala kekayaan dan keragamannya. “Bantu agamaku dan kau akan aku bantu, dan konsep itu ada di Negara Kesatuan Republik Indonesia,” ujarnya.

Deputi IV Kepala Staf Kepresidenan dalam sambutannya mengatakan, Presiden Joko Widodo dalam beberapa kesempatan mendukung penerapan wasatiyyah (jalan tengah) Islam dalam kehidupan sehari-hari. Menurutnya, hal itu sudah dilakukan umat Muslim Indonesia sehingga keberagaman masih terjaga hingga kini. Indonesia akan terus memupuk ajaran perdamaian dan persatuan, mengutamakan musyawarah dengan penuh toleransi dan kepercayaan dan membawa keadilan sosial dan perdamaian abadi.

Tags

Artikel Terkait

Close
Close