Pemerintahan

Istana: Kita Harus Mampu Memanfaatkan Peluang Digital untuk Kembangkan Pertanian

BANGGAI – Deputi II Kepala Staf Kepresidenan Yanuar Nugroho mengatakan pentingnya memanfaatkan peluang digital di bidang pertanian karena adanya perkembangan teknologi yang begitu cepat.

Hal itu dikatakannya dalam seminar yang diselenggarakan hasil kerja sama Fakultas Pertanian Universitas Tompotika Luwuk, Pemerintah Daerah Kabupaten Banggai, Lembaga Transformasi untuk Keadilan (TuK) Indonesia, dan Lingkar Gerakan Rakyat (LARRA), Kamis, 21 Februari 2019 di Gedung Graha Pemda Banggai, Sulawesi Tengah.

Yanuar Nugroho menjelaskan, dengan adanya perkembangan teknologi yang begitu cepat, masyarakat harus mampu memanfaatkan peluang digitalisasi termasuk penggunaan internet.

“Dari total 268,2 juta penduduk Indonesia, 56% merupakan pengguna internet. Penggunaan e-commerce merupakan peluang besar bagi masyarakat untuk meningkatkan pangsa pasar, dan jaringan yang luas dalam meningkatkan keuntungannya,”paparnya.

Menyikapi tantangan global saat ini, kita harus menghilangkan faktor yang menghambat kemajuan bangsa, memanfaatkan aset yang ada untuk memaksimalkan peluang dan mengoptimalkan kolaborasi antara pemerintah, akademisi, pelaku usaha, dan masyarakat.

Bupati Banggai Ir. H. Herwin Yatim, MM, saat membuka acara menyatakan bahwa tujuan pembangunan pertanian di Kabupaten Banggai adalah meningkatkan produksi dan produktivitas tanaman pangan, hortikultura, perkebunan dan peternakan menuju banggai swasembada pangan berkelanjutan dan meningkatkan jumlah produk hasil olahan tanaman pangan, hortikultura, perkebunan dan peternakan berkelanjutan.

Adapun strategi dan arah pembangunan pertanian dalam menghadapi revolusi industri 4.0 yaitu meningkatkan sumber daya manusia pertanian, mempersiapkan petani generasi millenial, mengoptimalkan pertanian berbasis digital, memanfaatkan teknologi mekanisasi pertanian dan menyiapkan infrastruktur digital. Sebanyak 60% dari 291 desa di Banggai telah terpasang perangkat digital.

Sementara itu Ketua Panitia Seminar Nasional, Mihwan Sataral, S.Si, M.Si menyatakan, “Seminar ini sangat penting dan bertujuan untuk membangun jaringan kemitraan yang kuat antara pemerintah, akademisi, praktisi, perbankan, pebisnis, petani, kaum milenial dan media agar terciptanya daya saing, serta diharapkan dapat menciptakan inovasi dalam menghadapi era revolusi industri 4.0 khususnya di bidang pertanian dari aspek hulu sampai hilir.”yn3

Khusus kaum milenial, mereka akan menjadi aktor terdepan yang akan berkolaborasi dengan memunculkan kreativitas dan kepedulian terhadap pertanian Indonesia. Salah satu wadahnya adalah melalui start-up di bidang pertanian.

Kreativitas mereka dalam mengintegrasikan antara aspek pertanian dengan teknologi dapat menjadi modal kita dalam menyiapkan diri menghadapi era yang serba digital.

Direktur Eksekutif TuK Indonesia yang juga menjadi narasumber Rahmawati Retno Winarni memaparkan konsep keuangan berkelanjutan, yang esensinya adalah kegiatan pembiayaan untuk memenuhi kebutuhan pembangunan global secara berkelanjutan; perlindungan dan pemanfaatan sumberdaya alam secara bertanggung jawab, serta peningkatan daya dukung lingkungan; mitigasi risiko lingkungan, sosial dan tata kelola, serta yang utama, kegiatan pembiayaan bagi terwujudnya keadilan sosial bagi masyarakat.

Tags

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Close
Close