Jadikan Keraton Sejagat Lelucon, Ganjar Pranowo Disemprot Polisi

  • Whatsapp
Gubernur ganjar Pranowo saat mengkunjungi Keraton Agung Sejagat

INDOPOLITIKA.COM – Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Jawa Tengah, Komisaris Besar Budi Haryanto, menyesalkan pernyataan Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo, yang menyebut fenomena Keraton Agung Sejagat merupakan sebuah lelucon belaka.

Menurut Budi, dari hasil penyelidikan ditemukan jika kasus ini sudah bisa masuk ranah pidana. “Mohon maaf Pak Gubernur, ini bukan lucu-lucuan. Ini kriminal murni,” tegas Budi.

Baca juga:

Budi memaparkan sejumlah aspek yang mendukung jika Keraton Agung Sejagat ini merupakan kriminal murni. Pertama dari segi filosofi. Meski raja dan ratu Keraton Sejagat yakni Toto Santoso dan Fanni Aminadia sudah mendeklarasikan diri, namun mereka nyatanya mengakui negara Indonesia, Presiden dan Wakil Presiden Indonesia.

“Jadi kami tidak menggunakan pasal makar lantaran deklarasi Keraton Agung Sejagat ini bukan deklarasi mendirikan negara, karena tidak punya wilayah. Maka dari itu, dari aspek filosofi kita menyatakan makar tidak ada,” ucap Budi.

Selanjutnya, dilihat dari aspek sejarah, lanjut Budi, polisi sudah berkoordinasi dengan ahli sejarah Universitas Diponegoro. Di mana ahli menyebut tidak ada Keraton Agung Sejagat dalam sejarah. “Tidak mungkin ada lagi Mataram ke-3 muncul,” jelas Budi.

Ketiga, aspek sosiologi. Penyidik yang mendatangi lokasi perkara telah memeriksa saksi. Kebanyakan warga di sekitar mengaku resah dengan keberadaan keraton ini.

Menurut warga, kegiatan di keraton tersebut berlangsung dari pagi hingga malam serta membakar kemenyan. Mereka merasa takut jika aktivitas keraton tersebut justru bakal memanggil setan.

Terakhir dilihat dari aspek yuridis. Budi mengaku jika menetapkan seseorang menjadi tersangka itu tidak mudah. Akhirnya dia mencari barang bukti yang bisa dijadikan alat bukti untuk menetapkan tersangka.

Bukti pertama yang ditemukan adalah tanda pengenal palsu yang mirip dengan ATM lantaran ada chip-nya. Tersangka Toto, lanjut Budi, mengaku berasal dari Mars karena punya kartu identitas yang beda dari KTP.

“Kami tanya kamu dari negara mana, dia jawab dari negara Mars, ini kan celaka. Inilah keadaan palsu yang dibuat tersangka sehingga masyarakat yang tidak tahu menjadi percaya. Kemudian peralatan kerajaan itu semua dibeli, bukan karena warisan. Dibeli dari uang pengikutnya yang sudah terkena bujuk rayunya,” kata Budi.[ab]

Berita Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *