Pemerintahan

Jangan Mau Dikompori Politisi, Presiden Jokowi: Pakai Akal Jernih, Pilih Pemimpin Paling Baik

Presiden Jokowi memberikan sambutan pada penyerahan sertifikat untuk rakyat, di Asrama Haji Bekasi, Jawa Barat, Kamis (31/5) siang. (Foto: AGUNG/Humas)

Menghadapi pemilihan kepala daerah baik gubernur maupun bupati/walikota yang akan serentak dilaksanakan beberapa hari mendatang, serta dalam menghadapi pemilihan presiden (pilpres) tahun depan, Presiden Joko Widodo (Jokowi) berpesan kepada masyarakat agar menggunakan akal jernih, dan memilih pemimpin yang paling baik.

“Pilih pakai hati nurani, pilih mana yang paling baik. Setelah itu sudah,” kata Presiden Jokowi saat menghadiri acara penyerahan 3.026 sertifikat untuk rakyat, di Asrama Haji Bekasi, Jawa Barat, Kamis (31/5) siang.

Sebelumnya Presiden Jokowi mengingatkan, bahwa Indonesia adalah negara besar yang memiliki penduduk sekarang ini 263 juta, tersebar di 17 ribu pulau. Selain besar, Indonesi juga majemuk, berbeda beda, beragam, memiliki 714 suku.

Oleh sebab itu, Presiden berpesan jangan sampai karena pilihan walikota, pilihan bupati, pilihan gubernur,  pilihan presiden, kita jadi retak. “Biayanya terlalu besar. Rugi besar kalau kita seperti itu,” ujarnya.

Kalau ada pilihan bupati, pilihan walikota, pilihan gubernur, pilihan presiden, tutur Presiden Jokowi, silahkan pilih pemimpin yang paling baik, setelah itu rukun kembali.

“Jangan mau dikompor-kompori, sehingga sampai tetangga nggak saling sapa, dengan teman enggak saling sapa, antar kampung menjadi tidak saling rukun,” pinta Presiden.

Kepala Negara mengingatkan, dalam menghadapi pesta demokrasi, pilihan politik berbeda tidak apa-apa. Tapi jangan sampai meretakkan hubungan di antara masyarakat sebagai saudara sebangsa setanah air.

“Jangan dikompor-kompori para politisi. Pakai akal jernih kita,” tegas Kepala Negara.

Ditambahkan Presiden Jokowi, Indonesia dilihat oleh negara lain itu adalah bangsa yang sangat rukun, bangsa yang santun, bangsa yang sangat ramah. Karena itu, ia mengingatkan, jangan sampai karena pilihan politik kita menjadi tidak rukun.

Adu Program

Dalam kesempatan itu, Presiden Jokowi juga menyampaikan mengenai isu-isu yang banyak berkembang saat pemilihan bupati, walikota,  gubernur, maupun pemilihan presiden.

Presiden menunjuk contoh isu yang menimpa dirinya sebagai PKI. Meskipun, lanjut Presiden, dirinya lahir 1961, sementara PKI dibubarkan 1965.

“Saya kan masih balita, masa ada PKI balita,” ujar Presiden seraya meminta masyarakat agar mengetahui logika-logika seperti ini.

Ada juga, lanjut Presiden,  isu yang mengaitkan dirinya sebagai anak orang Tionghoa dari Singapura. Padahal,  tegas Presiden, bapaknya itu orang Karanganyar. Orang desa betul di Karanganyar. Ibu dari desa di Boyolali.

“Jadi kalau diisukan seperti itu ada yang percaya, sedih kita. Itu adalah proses-proses pesta demokrasi yang tidak mencerdaskan kita,” ucap Presiden Jokowi.

Menurut Presiden, mestinya di dalam pesta demokrasi pilihan bupati, pilihan walikota, pilihan gubernur, pilihan presiden itu adu program, adu gagasan, adu ide, adu prestasi, rakyat dibawa ke sana.  “Jangan memakai isu-isu seperti itu,” pesan Presiden.

Oleh sebab itu, karena ini di Jawa Barat ada pilihan gubernur, di Bekasi juga ada pilihan walikota, Presiden Jokowi menitipkan pesan,  silahkan dipilih siapapun, tapi pilihlah yang baik.

“Silakan. Karena itu memang kebebasan yang diberikan oleh konstitusi kepada kita semuanya. Hak  memilih dan hak untuk dipilih,” tegas Presiden Jokowi.

Tampak hadir dalam kesempatan itu antara lain Sekretaris Kabinet Pramono Anung, Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala Badan Pertanahan Nasional (BPN) Sofyan Jalil, Sekretaris Daerah Provinsi Jawa Barat, Walikota Jakarta Timur, dan Walikota Bekasi.  (RSF/AGG/ES)

 

Tags

Artikel Terkait

Close
Close