Jenazah “Perusuh” Demo DPR Terus Keluarkan Darah Saat Dikubur, Meninggalnya Sesak Nafas ?

  • Whatsapp
Maulana saat akan dikubur di Tempat Pemakaman Umum Menteng Pulo, Jakarta Selatan, pada Jumat, 27 September 2019/Foto/Tempo.co.

INDOPOLITIKA.COM— Bentrokan yang terjadi antara polisi dan demonstran saat unjuk rasa di gedung DPR 25 September lalu masih meninggalkan luka mendalam untuk keluarga Maulana Suryadi (23). Pemuda itu meninggal di Rumah Sakit Polri Kramat Jati, Jakarta Timur.

Malam kejadian, belum diketahui identitas Maulana hingga akhirnya tanggal 26 September, Kapolri Jendral Tito Karnavian mengumumkannya. “Bukan pelajar dan mahasiswa, tapi kelompok perusuh itu,” kata Tito saat konfrensi pers di kantor Kemenkopolhukam, Kamis (26/9).

Baca Juga:

Bagi keluarga, terutama ibunya, Maspupah (53), perkara meninggalnya Maulana ditemukan banyak kejanggalan. Di satu sisi, polisi menyebut, Maulana meninggal karena sesak nafas. Tapi kenyataanya justru sebaliknya. Setidaknya menurut pengakuan Maspupah

Maspupah menuturkan, jenazah Maulana terus mengeluarkan darah di bagian hidung dan telinganya, bahkan hingga sesaat akan dimasukan dalam liang lahat di Tempat Pemakaman Umum Menteng Pulo, Jakarta Selatan, pada Jumat, 27 September 2019. “Kata polisi, mungkin dia meninggal karena asma akibat menghirup gas airmata. Gak mungkin, saya gak percaya,” kata Maspupah, ditemui di kawasan Pasar Tanah Abang, Rabu (2/10).

 Maspupah Diajak ke RS Kramat Jati

Maspupah bersama dua anaknya, Maulana Rizky dan Marissa Febrianti, diajak polisi untuk menengok jenazah Yadi di Rumah Sakit Polri Kramat Jati, Jakarta Timur. Berangkat menggunakan dua mobil, polisi sempat berhenti di sebuah restoran untuk makan malam. Maspupah yang ditawari makan pun menolak dengan alasan sudah kenyang.

Selang setengah jam kemudian, mereka meneruskan perjalanan ke RS Polri. Di sana, ia melihat Yadi telah terbujur kaku. Kepada Maspupah, polisi mengatakan kalau Yadi diduga meninggal karena sesak nafas. Maspupah membenarkan kalau Yadi memiliki riwayat penyakit asma.

“Saya masih syok. Sempat pingsan berkali-kali. Anak saya diminta membuat surat pernyataan kalau Yadi meninggal karena asma dan saya tanda tangani,” kata Maspupah sambil menambahkan, “Saya tidak ingat isinya seperti apa karena saat itu saya sangat panik dan kaget.”

Maspupah, 53 tahun, orang tua Maulana Suryadi, saat ditemui di Pasar Tanah Abang, Jalan Jatibaru 15, Tanah Abang, Jakarta Pusat, pada Rabu, 2 Oktober 2019. Maulana adalah korban tewas dari bentrokan yang terjadi usai demonstrasi pelajar STM di DPR RI pada 25 September 2019. Tempo/Adam Prireza.

Meski begitu, Maspupah merasa ada yang janggal. Saat di rumah sakit, terlihat ada darah keluar dari telinga Yadi. Sesampainya di rumah, darah dari hidung dan telinga jenazah Yadi terus keluar. Keluarga, kata Maspupah, harus beberapa kali mengganti kapas yang disumpalkan ke lubang hidung dan telinga Yadi.

Bahkan sampai saat Yadi hendak dimakamkan di Tempat Pemakaman Umum Menteng Pulo, Jakarta Selatan, kain kafan yang menutupi wajah Yadi penuh dengan rembesan darah. Maspupah sempat menunjukkan foto kondisi tersebut kepada wartawan.

Tak Percaya Korban Meninggal Karena Sesak Nafas

Atas dasar itu, kata Maspupah, dirinya tak percaya kalau anaknya meninggal karena asma akibat menghirup gas air mata. Kakak tiri Yadi, Bayu, juga mengatakan hal serupa. Saat memandikan jenazah adiknya, ia melihat bekas luka yang sudah membiru di sekujur tubuh bagian atas Yadi.

“Ada lebam cukup parah di bagian leher kanan dan kiri, serta di punggungnya. Kepala bagian belakang Yadi juga terasa lembek. Lukanya seperti dihantam benda tumpul,” tutur Bayu saat ditemui di kesempatan yang sama.

Dalam keterangannya, Kapolri Tito menjelaskan bahwa pada Rabu malam itu bentrokan terjadi antara TNI-Polri dan kelompok perusuh di daerah Slipi. Saat itu perusuh membakar pos polisi dan kendaraan serta melempari aparat dengan batu. Saat itulah satu orang pingsan di lokasi kejadian. Dia dibawa ke Rumah Sakit Polri Kramat Jati namun nyawanya tak terselamatkan.[asa]

Sumber : Berita Tempo.co

 

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *