Jerat Hukum Para Pelengser Gus Dur (Bagian 2)

  • Whatsapp

INDOPOLITIKA.COM – Ada perkataan menarik dari Tan Malaka di dalam bukunya yang berjudul Madilog, “Kebenaran tidak bisa ditutup-tutupi karena kebenaran adalah kebenaran itu sendiri karena sang waktu yang akan berbicara tentang kebenaran itu sendiri”.

Begitu pula dengan peristiwa pelengseran Gus Dur, meskipun direkayasa sedemikian rupa, lambat laun waktu yang akan berbicara soal kebenaran itu. Gus Dur dilengserkan oleh para pejabat, intelektual bahkan para ulama yang atur oleh para politisi sehingga memunculkan stigma Gus Dur telah menyalahgunakan wewenangnya sebagai Presiden, melakukan tindak pindana dan diwacanakan tidak mampu memimpin negeri ini.

Baca juga:

Stigma yang dibuat oleh HMI Connection (meminjam istilah Virdika Rizky Utama, penulis buku Menjerat Gus Dur) ternyata mampu menggulingkan Gus Dur dari kursi Presiden RI. Meskipun demikian, pada akhir tahun 2019 sang waktu berbicara berbeda, Gus Dur dilengserkan dengan menggunakan strategi-strategi “haram” karena dalam strategi yang digunakan oleh HMI Connection jauh dari sifat politik yang berbudaya Indonesia karena memasukan unsur fitnah dan makar.

Sedangkan fitnah dan makar adalah tindakan yang dilarang oleh Undang-Undang. Menghalalkan segala cara, begitulah adagium politisi, seolah-olah politik itu kejam tidak memberikan ruang bagi nilai-nilai kebudayaan dan Islam. Apapun itu, fitnah adalah perbuatan yang dilarang oleh agama.

Namun oleh HMI Connection digunakan untuk menumbangkan seorang ulama dari kursi Presiden dengan cara-cara yang bathil. Dalam agama tindakan tersebut merupakan dosa besar, tetapi oleh para pelengser Gus Dur pelajaran mengenai perbuatan dosa tidak diindahkan hanya demi sebuah jabatan. Beberapa orang, yang ada dalam dokumen pelengseran Gus Dur, terlihat duduk manis hadir di acara Haul Gus Dur pada akhir tahun 2019.

Wajah-wajah tersebut terlihat tidak ada rasa bersalah, datang dengan senyum bahkan sampai sekarang tidak ada perkataan “maaf” yang muncul dari mulut para pelaku pelengser Gus Dur. Hal ini mengindikasikan apa yang mereka lakukan dianggap benar.

Jika tradisi ini dibiarkan dan tidak ada tindakan nyata dari penegak hukum untuk melakukan penyelidikan terhadap pelengseran Gus Dur maka akan mencoreng wajah perpolitikan nasional karena merusak nilai-nilai suci profesi politisi. Mengapa? Politik berasal dari kata dasar policy yang bermakna kebijakan. Sedangkan dalam kebijakan ada unsur kebijaksanaan.

Berita Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

2 Komentar

  1. Hadratusyaikh KH. Amin rais yg dulu membantu menaikan gus dur.
    Jadi wajar juga beliau menurunkan gus dur. Karena keadaan negara saat itu ..amburadul…hutan dijawa digunduli..akibat ucapan ngawur presiden.