JK Jangan Terkesan “Ngotot ” Jadi Cawapres Jokowi, Tirulah Habibie

  • Whatsapp

Indopolitika.comPeneliti senior bidang politik LIPI Prof Dr Siti Zuhro menegaskan mantan Wapres RI Jusuf Kalla (JK) jangan terkesan “ngotot” agar menjadi cawapresnya Jokowi. Namun JK seharusnya meniru keteladanan BJ Habibie yang dengan jiwa besar menolak untuk dicapreskan kembali dalam Sidang Umum MPR RI 1999 lalu.

Meskipun saat itu peluang Habibie sebagai capres poros tengah berpeluang sangat besar mengalahkan capres Megawati Soekarnoputri yang diusung PDIP.

Muat Lebih

“Namun Pak Habibie saat itu tegas-tegas menolak tawaran poros tengah karena pertanggungjawaban beliau yang ditolak di sidang umum itu. Sangat rasional berfikir beliau. Meskipun tawaran menggiurkan poros tengah yang mau mengusungnya menjadi capres bisa dipastikan menang. Tapi itulah beliau yang berfikir dan bersikap sebagai pemimpin, bukan penguasa seperti menjadi presiden itu. Dan faktanya memang capres yang diusulkan poros tengah (Gus Dur) menang. Tapi itulah hebatnya seorang Habibie,” urai Siti.

Ia pun meminta semua lembaga survei tak lagi menyurvei elektabilitas JK kalau berpasangan sebagai cawapresnya Joko Widodo alias Jokowi. Karena dengan terus menerusnya lembaga survei dan media massa menyebutkan elektabilitas Jokowi-JK tertinggi, maka JK pun akan terus bersemangat untuk “berupaya” menjadi cawapresnya Jokowi.

“Jadi, biarkanlah Jokowi menentukan pasangannya sendiri yang sehati sepikiran dengan dia. Jangan dibikin seperti kawin paksa seperti ini. Maksudnya agar agar pasangan dwi tunggal Jokowi nanti adalah pasangan pemimpin nasional nanti menjadi rule model untuk pasangan-pasangan selanjutnya,” jelas Siti.

Ditambahkannya, Jokowi sebagai ikon moral saat ini bisa diasumsikan pemenang Pilpres 9 Juli nanti. Artinya, pasangannya nanti harus sarat pula dengan moralitas kebaikan, atau yang sudah selesai dengan kepentingan dirinya sendiri.

“Jadi marilah yang dipilih nanti yang paling sedikit kelemahannya, yang terbanyak kelebihannya, yang paling besar implikasi manfaatnya untuk rakyat, yang membantu kinerja presiden, tidak menimbulkan kontroversi. Dan satu lagi, jangan sampai presiden malah sungkan kepada wapresnya,” terang Siti. (Ind/bd)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *