Jokowi Dinilai Reformator yang Berubah Pragmatis, Benarkah?

  • Whatsapp
Cuplikan wawancara Presiden Jokowi dengan BBC Asia.

INDOPOLITIKA.COM – Presiden Joko Widodo ‘sempat’ diagung-agungkan sebagai sosok bersahaja, low profile, demokratis, dan disukai sebagian besar rakyat. Singkatnya, Jokowi adalah seorang reformator.

Namun, di periode kepemimpinanya, penilaian bahwa Jokowi adalah seorang reformator lamban laun luntur. Jokowi kini bahkan dianggap berubah menjadi sosok pemimpin yang pragmatis. Benarkah?

Berita Lainnya

Setidaknya itulah salah satu judul pemberitaan yang dicantumkan BBC, saat melakukan wawancara ekslusif dengan Presiden Jokowi, belum lama ini. Dalam wawancara dengan koresponden BBC Asia, Karishma Vaswani ini, Jokowi sempat dipuji sebagai sosok reformator hebat, harapan jutaan masyarakat Indonesia yang mempercayakan nilai demokrasi dibawah kepemimpinannya.

Namun kini, lanjut Karishma, Indonesia kehilangan sikap toleransi, minoritas tidak lagi dilindungi, masyarakatnya dan kebebasan pers tidak lagi bebas menyampaikan kritik layaknya sebuah negara demokrasi.

Ditanya seperti itu, Jokowi sempat menggelengkan kepala sebelum akhirnya menjawab pertanyaan Karishma. Menurut Jokowi, saat-saat ini, di depan Istana Negara, masih tetap ada demo dari masyarakat. Bahkan hampir setiap hari. Itu biasa, itu demokrasi.

“Masyarakat Indonesia juga penuh dengan toleransi, senang dengan demokrasi. Bahwa ada yang intoleran, bahwa ada yang namanya konflik kecil-kecil, normal saja di sebuah negara besar seperti Indonesia, yang memiliki keragaman. Kalau ada gesekan kecil, normal menurut saya,” jelas Jokowi.

Bagaimana dengan isu hak asasi manusia? Dalam kesempatan ini, Karishma juga menanyakan sikap Jokowi terkait isu hak asasi manusia dan lingkungan. Karena seperti diketahui, kata dia, Jokowi dalam periode kepemimpinanya ini lebih foku kepada peningkatan ekonomi, menekan angka pengangguran. ”Seberapa penting bagi Anda terhadap isu lain seperti HAM misalnya,” tanya Karishma?

Menjawab pertanyaan itu, Jokowi mengatakan bahwa pertama, pemerintahanya fokus peningkatan infrastuktur. Dan periode kedua ini, lanjut Jokowi, fokus pada pembangunan sumber daya manusia, setelah itu lingkungan, inovasi, kemudian hak asasi manusia. Kenapa tidak?

“Tapi enggak bisa semuanya dikerjakan (berbarengan). Bukan, bukan tidak mau. Tapi memang, saya senang kerja fokus, saya senang kerja prioritas,” kata Jokowi.

“Apakah demokrasi di Indonesia berbeda dengan negara lainya,” tanya Karishma.

Menurut Jokowi, jelas berbeda. Katanya mantan Gubernur DKI Jakarta ini, demokrasi di Indonesia tidak harus berbenturan satu sama lain. Contohnya, rivalitas Jokowi dengan Prabowo pada Pilpres, mencair ketika dua tokoh itu dipersatukan dalam sebuah pemerintahan.

“Saya dengan Pak Prabowo, sekarang dalam satu koalisi. Pak Prabowo menjadi Menteri Pertahanan. Di Indonesia bisa seperti itu. Di negara lain mungkin sulit seperti itu. Tapi inilah Indonesia. Demokrasi Indonesia adalah demokrasi pancasila. Demokrasi gotong royong,” tutupnya.[asa]

Berita Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *