AnalisisPartai Politik

Jokowi Effect dan Keperkasaan Golkar

Oleh: Habib Alatas

Peneliti Pusat Kajian Politik Islam dan Pancasila (Puskapis)

Hasil survei mutakhir Lingkaran Survei Indonesia  (LSI) menempatkan Partai Golkar di urutan puncak dengan raihan suara 21,9%. Posisi di bawahnya ditempati PDI-P (21,1%) disusul Gerindra (11,1%), Partai Demokrat (7,6%) dan PKB (5,9%). Survei yang dilakukan 22-26 Maret 2014 itu, setidaknya, menjadi peta navigasi dalam melihat dinamika politik ke depan.

Bagi sebagian pihak, hasil survei itu mungkin tak terlalu mengejutkan. Pasalnya, berbagai fenomena politik yang terjadi belakangan dengan sendirinya menyiratkan kenyataan tersebut. Ada hubungan kuat antara fakta politik dengan persepsi publik, antara perilaku partai dengan besaran tingkat elektabilitas.

Partai politik yang berhasil mengendalikan turbulensi, melewati ujian berat yang mengancam disintegrasi, memiliki daya tahan dan daya suai terhadap keadaan, elektabilitasnya akan terus meningkat. Minimal, mampu bertahan dengan stabil. Sebaliknya, partai politik yang mudah terombang-ambing “arus dalam” dan “arus luar” partai, tingkat elektabilitasnya akan merosot.

Dalam politik tak hanya berlaku hukum rimba (yang kuat pasti menang) melainkan juga terjadi seleksi alamiah, yakni siapa yang bertahan dan punya daya suai akan terus hidup dan berkembang. Inilah yang menjadi kunci kenapa Partai Golkar dan PDI-P mampu bertahan sampai sekarang. Sementara, Partai Demokrat sebagai pemenang pemilu 2009 terus merosot, bahkan elektabilitasnya disalip Partai Gerinda.

Padahal dari sisi pemberitaan negatif, porsi pemberitaan Partai Demokrat tidaklah jauh beda dengan Partai Golkar. Sebagaimana hasil riset Pol-Tracking Institute, tone berita negatif untuk Partai Golkar sebesar 19,1%, hanya beda tipis dengan Partai Demokrat 20,53%. Ini artinya, Partai Demokrat (juga partai lain) tak punya daya tahan dan daya suai layaknya Partai Golkar.

Efek Jokowi?

Sebagian kalangan menilai faktor pencapresan Jokowi berdampak besar pada naiknya elektabilitas PDI-P. Bahkan dampak itu mampu menutupi berita-berita negatif seputar kader PDI-P yang tersangkut masalah hukum. Jika anggapan ini benar, dan katakanlah benar, pertanyaan selanjutnya: hanya segitukah efek Jokowi bagi PDIP? Kenapa tidak mampu menggeser Partai Golkar?

Tak dapat dipungkiri, efek Jokowi memang ada. Apalagi dalam berbagai survei calon presiden, nama Jokowi selalu moncer di urutan teratas. Namun sebagai catatan, bicara elektabilitas partai tak hanya soal siapa memengaruhi apa, tapi juga apa memengaruhi siapa. Di sini sistem dan mekanisme partai lebih menentukan ketimbang kekuatan figur.

Masalahnya pasti berbeda jika misalnya Jokowi mencalonkan diri dari Partai Demokrat. Apakah Partai Demokrat akan memiliki elektabilitas sama dengan PDI-P sekarang? Tentu saja berbagai macam analisis mengatakan mustahil. Sebab sekali lagi, faktor dominan penentu tingkat elektabilitas partai adalah sistem yang tunduk pada hukum rimba dan seleksi alamiah.

Sistem dan mekanisme kepartaian PDI-P masih oligarkis dengan kultur politik dinasti yang kental. Meski kita dikejutkan dengan sikap Megawati yang menunjuk Jokowi sebagai capres, tapi kultur itu tetap melekat. Bukti sederhananya, calon presiden tak dilahirkan melalui mekanisme konvensi melainkan dari hasil penunjukan Megawati. Sosok Megawati menjadi penentu kebijakan puncak PDI-P. Sehingga, PDI-P tetap terkesan milik Megawati.

Beda halnya dengan Partai Golkar. Semua dibentuk dan dibangun melalui proses demokratis, sehingga publik bisa menilai dengan terbuka. Publik juga dapat melihat Golkar merupakan satu-satunya partai modern yang siap menghadapi apa pun, baik masalah internal partai maupun masalah kebangsaan.

Terbukti, hanya Partai Golkar yang punya program pembangunan keindonesiaan ke depan. Bahkan Golkar telah merumuskan Visi Negara Kesejahteraan 2045. Sebuah langkah maju dan mantap meski pada tataran konsep tentunya masih bisa diperdebatkan.

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Close
Close