Opini

Jokowi-Moeldoko, Apakah Pas?

Oleh: Sonny Majid

Kalau ditanya siapa yang tepat mendampingi Jokowi dalam pertarungan Pilpres mendatang. Tegas akan saya jawab, Moeldoko. Usulan nama Moeldoko bukan tanpa alasan. Pertama karena eskalasi politik ke depan diperkirakan masih berbau sentimen SARA. Sudah barang tentu ini berkorelasi dengan isu stabilitas negara, baik itu stabilitas politik, keamanan bahkan stabilitas ekonomi.

Sampai sekarang, lawan-lawan politik Jokowi masih menggunakan isu SARA sebagai cara menjatuhkan. Mulai dari anti Islam, sampai dengan urusan isu PKI yang menurut saya adalah hantu.

Jika menggaet Moeldoko, Jokowi bisa mengimbangi pesaingnya yang dominan dijagokan dari kalangan militer seperti Prabowo Subianto, Gatot Nurmantyo (GN), bahkan Agus Harimurti Yudhoyono (AHY). Jika memang para mantan militer tersebut resmi menjadi pesaing Jokowi, maka bisa dipastikan masing-masing akan mengambil cawapresnya dari sipil. Perimbangannya adalah Jokowi sipil, wakilnya militer.

Sepanjang kiprahnya sebagai Kepala Staf Presiden (KSP), Moeldoko tidak pernah melakukan manuver politik yang bisa mengganggu stabilitas internal kepemimpinan Jokowi. Dalam menjalankan fungsinya sebagai KSP, Moeldoko selalu merespon isu-isu negatif yang ditujukan kepada pimpinannya. Mantan Panglima TNI ini selalu tepat memosisikan diri sebagai penyampai pesan pemerintah.

Kedua, apabila Jokowi memilih Moeldoko, maka ruang kompromi dengan parpol pendukungannya terbuka lebar.

Ketiga, sejauh pengamatan, Jokowi akan lebih memilih figur yang loyal sebagai pendampingannya. Fokus bekerja dan tidak bermanuver. Nah, sekali lagi indikator itu ada pada sosok Moeldoko. Di lain hal, Moeldoko mampu merekonsiliasi poros-poros pesaing dalam pertarungan pilpres. Artinya apa, Jokowi akan memilih yang tidak resisten. Moeldoko dikenal juga sebagai sosok militer yang dingin dan tegas. Meski belakangan ternyata dia juga supel.

Kenapa bukan GN atau AHY? Jawabannya saya yakin kita semua tahu. Tak lain gerak-gerik GN saat menjabat Panglima TNI yang sempat menuai kontroversi. So…dengan demikian sangat resisten. Mulai dari instruksi nobar PKI, polemik pembelian senjata. Sehingga imej GN adalah bagian dari oposisi.

Bagaimana dengan AHY? Sebenarnya lumayan, karena muda, ganteng. Tapi sayang, skema politik AHY masih menjadi personifikasi politik ayahnya, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), sehingga belum mandiri secara politik. Dalam kepemimpinan sebuah negara, kemandirian menjadi barometer penting. Mengingat yang diurusi begitu banyak dan bakal menghadapi berbagai tekanan. AHY “masih di bawah bayang-bayang sang Bapak.”

Keempat, Moeldoko ini relatif bersih sehingga mampu diterima semua kalangan/faksi. Rekam jejaknya sebagai Panglima TNI kala itu, Moeldoko dianggap oleh banyak pihak sebagai pemimpin yang peduli dengan kebutuhan prajurit.

Paket Jokowi-Moeldoko ini merupakan formasi “Sipil-Militer” dan “Nasionalis-Religius” lantaran belakangan Moeldoko diketahui sangat peduli dengan gerakan sosial keagamaan. Dibuktikan oleh dirinya dengan mendirikan “Islamic Centre Dr H Moeldoko,” di kawasan Raya Kayen, Bandar Kedungmulyo, Jombang, Jawa Timur.

Pak Jokowi…….! Sebaiknya Ambil Pak Moeldoko Jadi Cawapres.

Tags

Artikel Terkait

Close
Close