Jual-Beli Kursi DPR Karena Kaderisasi yang Lemah

  • Whatsapp

INDOPOLITIKA.COM- Manajer Riset Forum Masyarakat Peduli Parlemen Indonesia (Formappi) Lucius Karus menyatakan, kasus jual beli kursi DPR lewat pergantian antarwaktu (PAW) akibat kaderisasi partai yang lemah.

Dimana, partai bersikeras mengajukan orang yang disukai atau dekat dengan elite partai. Sehingga menyingkirkan anggota lain yang bahkan tanpa punya kesalahan tiba-tiba dipecat.

Berita Lainnya

“Ini artinya tak semua yang terdaftar menjadi anggota partai merupakan kader partai. Ada yang mungkin menjadi caleg karena faktor membayar sehingga walaupun mendapatkan banyak suara, dia tetap tak dianggap partai. Jadi kaderisasi partai lemah,” kata Lucius di Jakarta, Senin (13/1/2020).

Dia pun mencurigai praktik ini terjadi sejak Pemilu legislatif (pileg) langsung dilakukan pada 2004.

“Saya kira (jual beli PAW-red) sejak pemilu langsung. Ketika partai tak bisa secara langsung memutuskan siapa caleg terpilih yang mewakili partai di DPR,” imbuhnya.

Diketahui, terkuaknya kasus jual-beli kursi DPR lewat Pergantian Antar-Waktu (PAW) dengan tertangkapnya Komisioner Komisi Pemilihan Umum (KPU) Wahyu Setiawan oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) beberapa waktu lalu.

Wahyu ditangkap oleh KPK karena diduga menerima duit sebesar Rp600 juta dari total Rp 900 juta yang diminta. Dugaan suap ini terkait dengan upaya memuluskan permintaan Harun Masiku menjadi anggota DPR PAW dari Fraksi PDIP yang meninggal dunia, yaitu Nazarudin Kiemas pada Maret 2019. Namun dalam pleno KPU pengganti Nazarudin adalah caleg lainnya atas nama Riezky Aprilia.[pit]

Berita Terkait


INDOPOLITIKA TV

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *