Jurnalis AS Diusir dari Cina, Menlu Joseph Wu Ajak Media Gedung Putih Berkantor di Taiwan

  • Whatsapp
Menlu Taiwan Joseph Wu. Foto/Fabian Hamacher/Reuters

INDOPOLITIKA.COM – Menteri Luar Negeri Taiwan Joseph Wu dengan terbuka mengundang para jurnalis di tiga media kenamaan Amerika Serikat, yang sudah diumumkan ‘diusir’ keluar dari Cina untuk berkantor di Taiwan.

Diketahui, pengumuman pengusiran itu diumumkan pada 18 Maret lalu, dimana Beijing mencabut akreditasi pers semua jurnalis Amerika di biro  New York Times, Wall Street Journal, dan Washington Post, yang akan berakhir pada akhir 2020.

Bacaan Lainnya

Beijing juga mengatakan mereka yang terkena dampak tidak akan diizinkan bekerja sebagai jurnalis di Hong Kong yang dikelola Cina. Padahal di masa sebelumnya, jurnalis asing yang diusir dari atau dilarang meliput di  daratan Cina diizinkan untuk bekerja di Hong Kong.

“Ketika @nytimes, @WSJ & @washingtonpost menghadapi meningkatnya permusuhan di Tiongkok, saya ingin menyambut Anda untuk ditempatkan di Taiwan. Sebuah negara yang merupakan mercusuar kebebasan & demokrasi,” tulis Wu di Twitternya, dikutip indopolitika.com, Sabtu, (28/3/2020).

“Ya! Anda akan menemukan orang-orang di sini menyambut Anda dengan tangan terbuka & banyak senyum tulus,” tambah Menlu.

Taiwan adalah rumah bagi hanya sejumlah kecil koresponden asing permanen, dan tidak satu pun dari ketiga surat kabar itu yang hadir secara penuh di pulau itu saat ini. Taiwan telah meningkatkan kontrol perbatasan untuk membantu mencegah penyebaran virus corona, dan umumnya hanya orang asing yang sudah memiliki izin tinggal yang diizinkan masuk.

Pengusiran jurnalis oleh Beijing imbas dari tindakan Amerika yang terlebih dahulu mengambil langkah mengusir jurnalis Cina di Amerika. Bulan lalu, Washington menuntut wartawan dari media pemerintah China didaftarkan sebagai staf misi diplomatik, karena media-media tersebut dianggap terlalu kritis dalam pelaporan independen di Tiongkok.

China kemudian mengusir tiga media di negaranya, yakni Wall Street Journal Reporters (dua orang jurnalis Amerika dan seorang berasal dari Australia), setelah surat kabar itu menerbitkan di kolom opini yang menyebut Cina “orang sakit Asia yang sebenarnya”.

Dalam sebuah surat terbuka yang diterbitkan awal pekan ini, ketiga penerbit mendesak China untuk mempertimbangkan kembali langkah itu, dengan mengatakan keputusan itu “unik, merusak dan gegabah” pada saat dunia berbagi beban melawan virus corona. Cina sendiri merespon permintaan itu dengan dingin.[asa]

 

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *