Juru Dakwah di Tengah Pageblug Covid-19

  • Whatsapp
Achmad Fachrudin, Ketua Prodi KPI Fakultas Dakwah Institut PTIQ Jakarta

Pageblug corona virus desease  (Covid-19) sudah berlangsung sekitar sepuluh bulan dan telah menimbulkan begitu banyak dampak negatif bagi hidup dan kehidupan. Salah satunya terhadap roda perekonomian sehingga mengakibatkan banyak orang kehilangan pekerjaan dan penghasilan yang bermuara kepada terjadinya kemiskinan massif. Dampak tersebut menyasar ke  semua lapisan masyarakat. Termasuk pada kelompok minoritas kreatif (creative minority) dan umat terbaik (khairo ummah) yang bergerak di bidang dakwah.

Umat Islam yang bergerak di bidang dakwah biasanya disebut da’i (laki-laki) atau daiyah (perempuan).  Kewajiban berdakwah sejatinya berlaku bagi setiap individu muslim. Namun demikian, agar tujuan dakwah efektif diperlukan orang-orang yang secara khusus dan serius bergerak di bidang dakwah dengan bekal kualitas personal atau integritas moral memadai. Selain  pengetahuan mengenai materi dakwah, objek dakwah,  media dakwah, metode dakwah, efek dakwah, retorika dakwah dan lain sebagainya.

Berita Lainnya

Dalam perkembangannya, aktivitas dakwah merupakan ladang terbuka bagi siapapun. Mereka yang berbekal pengetahuan keagamaan pas-pasan, terbuka lebar untuk bergiat di dunia dakwah. Dan trend tersebut sudah terjadi dalam dekade terakhir. Bahkan diantaranya, dengan modal  wajah ramah kamera (camera face) dan apalagi mampu mengemasnya dengan  sentuhan teknologi digital, seperti Instagram atau Youtube dalam mengemas dakwah, berhasil menjadi juru dakwah populer dengan bayaran menggiurkan.

Enam Karakteristik

Secara sosiologis setidaknya terdapat enam karakteristik juru dakwah saat ini. Pertama, juru dakwah yang menjadikan kegiatan dakwah sebagai ladang pengabdian dan sekaligus mata pencaharian pokok/utama. Tidak ada kegiatan/aktivitas  lain selain berdakwah melalui undangan resmi, mengisi pengajian rutin, sebagai khotib Jum’at, khotib Idul Fitri, Idul Adha dan lain sebagainya.

Kedua, juru dakwah sekaligus juga merangkap sebagai kiai, ustaz, guru atau dosen. Dalam hal ini, selain dakwah sebagai ladang pengabdian dan mata pencaharian juga menjadikan aktivitas sebagai kiai, guru, ustaz atau dosen sebagai profesinya. Bisa saja yang menjadi profesi utama adalah  juru dakwah sedangkan sebagai kiai atau dosen (swasta atau negeri) sebagai aktivitas sampingan, atau sebaliknya.

Ketiga, juru dakwah yang juga berprofesi sebagai karyawan/pegawai, apakah itu Aparatur Sipil Negara (ASN) atau Swasta dan mempunyai gaji/penghasilan tetap. Terkait hal ini, bisa saja aktivitas sebagai juru dakwah dan karyawan dilakoni secara profesional. Namun bisa juga kegiatan sebagai juru dakwah hanya sampingan. Sedangkan yang utama atau pokok adalah sebagai ASN atau karyawan swasta, atau sebaliknya.

Keempat, juru dakwah yang berprofesi atau bergerak di bidang usaha atau bisnis. Dalam kasus ini, bisa saja aktivitas dakwah hanya sebagai kegiatan voluntir (sukarelawan) atau sampingan tanpa berharap imbalan imbalan (ujroh) atau honor. Sedangkan aktivitas di bidang bisnis, merupakan core businessnya. Atau sebaliknya, profesi dakwah sebagai profesi utama sementara bisnis/usaha sebagai usaha sampingan.

Kelima, juru dakwah yang  memiliki simpanan tabungan (saving) atau pendapatan pasif (passive income) memadai. Terlepas apakah aktivitas dakwahnya  dijadikan sebagai kegiatan utama atau tidak utama (second jobs), juru dakwah kategori ini hidupnya berkecukupan bahkan masuk dalam kategori kelas menengah-atas. Karenanya untuk memenuhi kehidupannya tidak tergantung lagi dengan pendapatan atau imbalan dari aktivitas di bidang berdakwah.

Keenam, juru dakwah yang mempunyai kompetensi sebagai seorang profesional di bidang ilmu pengetahuan, wawasan, teknologi, atau life skill. Juru dakwah semacam ini bisa saja menjadikan aktivitas dakwah sebagai profesinya. Namun dalam memenuhi kebutuhan hidupnya   lebih banyak mengandalkan dari keahliannya sebagai profesional atau expert yang dibayar mahal oleh pihak client atau user yang membutuhkan dan menggunakan jasanya.

Paling Terpapar

Pada dasarnya semua karakteristik juru dakwah terpapar pandemi Covid-19 dengan varian dan kualitas dampak yang berbeda-beda. Tergantung dari jenis dan strata pekerjaan sebagai juru dakwah, kepemilikan simpanan/tabungan, pendapatan pasif  dan sebagainya. Ada yang sedang-sedang saja, namun ada yang terkena dampak parah. Mareka ekonominya sama sekali tidak terkena imbas Covid-19, boleh dikatakan sangat sedikit jumlahnya.

Juru dakwah yang paling terkena imbas negatif tampaknya yang selama ini menggantungkan kehidupannya dari kegiatan dakwah an sich. Dan boleh dikatakan tidak ada aktivitas lain yang memiliki nilai produktivitas  secara ekonomi. Juru dakwah dengan karakteristik semacam ini paling terpukul terutama sebagai dampak dari kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) yang diterapkan oleh pemerintah.

Secara praktis, kebijakan PSBB dilakukan dengan cara membatasi aktivitas secara signifikan di perkantoran (pemerintah dan swasta), aktivitas dunia usaha, perpasaran, mall, lembaga pendidikan, tempat hiburan dan sebagainya. Bahkan tidak sedikit yang ditutup atau menutup diri. Penerapan PSBB memaksa warga/masyarakat beraktivitas di rumah (work or pray from or at home).

Melalui PSBB dan penerapan bekerja, belajar dan khususnya beribadah di rumah, berdampak negatif terhadap terhadap juru dakwah. Banyak juru dakwah kekurangan dan kehilangan jobs. Dengan kekurangan dan kehilangan jobs berdakwah, berdampak pada kurangnya pendapatan dan penghasilan. Padahal sebagai manusia, juru dakwah juga manusia, yang memerlukan dana atau uang untuk membiayai berbagai kebutuhannya.

Bantuan Karitatif

Kalangan juru dakwah yang paling banyak terpapar Covid-19,  bukan berarti hanya berlaku pasrah menerima nasib dengan situasi dan kondisi yang tidak mengenakkan.  Tidak sedikit kalangan ini berusaha untuk menutupi defisit keuangannya dengan kegiatan lain. Tetapi hal tersebut tidak mudah. Hal ini karena adanya kendala. Misalnya ketiadaan modal, minimnya keterampilan, kurangnya pengalaman, dan sebagainya.

Meskipun tidak rutin setiap bulan sekali, beruntung Kementerian Agama berbaik hati memberikan bantuan sosial khusus kepada ustaz, kiai, guru mengaji dan khususnya juru dakwah yang selama masa pandemi Covid-19 sepi panggilan ceramah dan dakwah. Bantuan tersebut sudah disalurkan, dan cukup membantu bagi para juru dakwah yang ekonominya terpukul akibat Covid-19.

Sementara Majelis Ulama Indonesia (MUI) membentuk Satuan Tugas (Satgas) Covid-19. Melalui Satgas Covid-19,  MUI berkomitmen membantu masyarakat dan tenaga medis dan kaum duafa yang terdampak wabah Corona ini dengan memaksimalkan ormas-ormas Islam dan lembaga filantropi untuk membantu masyarakat. Tetapi tidak terjelaskan, apakah MUI memberikan perhatian dan bantuan khusus terhadap juru dakwah.

Di sisi lain, Sekretaris Jenderal (Sekjen) PP Dewan Masjid Indonesia (DMI) Imam Addaruquthni berpendapat, dana amal masjid bisa dimanfaatkan untuk membantu masyarakat miskin di tengah krisis akibat wabah corona. Namun bagi para dai atau pendakwah tidak busa serta-merta diberikan bantuan karena belum tentu masuk kategori fakir. Para dai hanya layak diberikan bantuan jika memang masuk kategori masyarakat miskin. Terhadap para dai profesional itu tidak dianjurkan (pemberian bantuan).

Pelajaran Mahal

Banyaknya juru dakwah yang terimbas atau terpuruk ekonominya sebagai dampak negatif pandemi Covid-19 berkepanjangan harus menjadi pelajaran mahal untuk diambil hikmahnya. Baik itu oleh individu  maupun kelompok, oleh institusi formal maupun informal, institusi sosial maupun institusi negara, institusi keagamaan, perguruan tinggi dan lain sebagainya.

Secara individu, pandemi Covid-19 mengajarkan bahwa tidak cukup juru dakwah hanya mengandalkan kehidupannya dari aktivitas dakwah, melainkan juga harus membekali dirinya dengan pengetahuan, keterampilan atau soft skill melalui aktivitas yang produktif secara ekonomi. Saat yang sama berkolaborasi dengan institusi bisnis, dunia usaha, perbankan syariah, ahli atau perusahaan  multi media, teknologi digital, dan sebagainya.

Tugas ini terutama menjadi pekerjaan rumah bagi institusi pendidikan tinggi, terutama pendidikan tinggi Islam dan lebih khusus lagi lembaga pendidikan yang di dalamnya ada fakultas dakwah, baik itu program studi manajemen dakwah maupun komunikasi penyiaran Islam. Institusi pendidikan tinggi Islam mutlak harus memberikan bekal pengetahuan ilmu dakwah bagi mahasiswanya. Sekaligus juga kompetensi atau keahlian di bidang kewirausahan dan muti media.

Dengan cara demikian, diharapkan para juru dakwah,  baik yang dihasilkan oleh institusi pendidikan tinggi Islam, pesantren, lembaga pendidikan sekuler, ataupun yang menjadi juru dakwah karena mengandalkan camera face dan teknologi digital seperti Instragram atau Youtube,  bisa selalu eksis dan survive.  Dalam situasi normal maupun abnormal, atapun dalam situasi yang disebut dengan era kenormalan baru (new normal). []

Berita terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *