Pemerintahan

Kapasitas Inovasi Jawab Tantangan Era Industri 4.0

JAKARTA- Guna meningkatkan daya saing di era industri 4.0, Kantor Staf Presiden, mengadakan dialog tematik bertajuk innovators forum di Bina Graha, Jakarta, Kamis (7/6/2018).

Para pelaku usaha, penyusun kebijakan, dan akademisi untuk membicarakan faktor-faktor yang bisa mempercepat dan menghambat inovasi. Forum ini mengambil sektor teknologi kesehatan sebagai fokus utama.

Forum ini penting karena seperti negara lain, Indonesia juga menghadapi era industri 4.0 yang arahnya belum benar-benar dipahami. Oleh karena itu, bersiap diri untuk menganantisipasi adalah langkah terbaik.

Para ahli memperkirakan, pada era ini akan terjadi orang akan berhenti membeli mobil, makin banyak orang menyewa properti, biaya komunikasi akan gratis, printing 3-dimensi akan berkembang pesat, robot akan menggantikan manusia di banyak industri, bank tidak lagi berarti sebuah tempat, tetapi hanya sebuah konsep.

“Maknanya kita akan menghadapi situasi, di mana kapasitas sumber daya manusia dan efisiensi efeknya adalah distruption atas pertumbuhan angkatan kerja Indonesia,” kata Kepala Staf Kepresidenan Moeldoko dalam sambutan kuncinya yang didampingi Deputi II Kepala Staf Kepresidenan Yanuar Nugroho dan Sfat Khusus Kepala Staf Kepresidenan Avanti Fontana.

Menurut Kastaf, dengan menyadari besarnya tantangan tersebut, maka mutu SDM dan peningkatan kapasitas inovasi menjadi mutlak. Sayangnya, peringkat Indonesia dalam Indeks Inovasi Global masih perlu didongkrak. Sebagai gambaran Indeks Inovasi Global Indonesia pada 2015 berada pada peringkat 97 dari 141 negara, lantas menjadi peringkat 88 dari 128 negara pada tahun 2016, dan pada 2017 menjadi 87 dari 127 negara.

Meski naik, beberapa dimensi penilaian yang mencakup institusi, SDM dan riset serta iklim bisnis perlu banyak perbaikan. Pengalaman menunjukkan, peningkatan inovasi bisa dimulai dari hal nyata yang berhasil dilakukan. Seperti inovasi bus listrik hasil karya anak bangsa yang ramah lingkungan. Selain penemuan teknologi aspal dingin, micro bubble, dan padi unggul yang bisa menghasilkan 9 ton per hektarnya.

Tak kalah pentingnya adalah meniupkan optimisme bangsa, seperti pengakuan World Economic Forum yang menempatkan indeks daya saing Indonesia pada peringkat 36. Angka tersebut berada di atas negara ekonomi baru seperti Brasil (peringkat 80) dan India (peringkat 40).

Tags

Artikel Terkait

Close
Close