Kasus Ilham Bintang Menguak Celah Prosedur SIM Card dan Pemalsuan e-KTP

  • Whatsapp
Tangkapan CCTV di gerai Indosat Bintaro Jaya Xchange. Si penipu yang mengaku sebagai Ilham Bintang terlihat berkonsultasi dengan karyawan customer service

INDOPOLITIKA.COM Nomor subscriber identity module (SIM) atau kartu seluler Indosat milik pendiri media Cek dan Ricek, Ilham Bintang dicuri oleh orang tidak dikenal. Akibatnya, ratusan juta uang dalam rekeningnya turut ludes terkuras.

Pakar siber dari Vaksincom, Alfons Tanujaya, melihat kasus yang menimpa Ilham Bintang sebagai kesalahan dari pihak operator.

Baca juga:

Menurut dia, di era digital dan semua perangkat terkoneksi, nilai sebuah SIM Card sama dengan menjaga sebuah password. Keamanan informasi sensitif, kata dia, tidak hanya menjadi tanggung jawab pribadi, tetapi juga operator yang menyimpan informasi berharga pelanggan.

“Ini bobolnya dari provider, tapi masalahnya tidak sesederhana itu. It’s complicated. Pemerintah turut andil karena orang dengan mudah bikin KTP-el palsu,” kata Alfons dikutip dari Cyberthreat.id, Jum’at (17/1/2020).

Alfons mengingatkan bahwa SIM Card adalah faktor otentikasi utama sehingga pengguna maupun provider telekomunikasi harus ekstra hati-hati. Si penipu adalah seorang yang lebih berani dan lebih pintar. Terbukti dari tangkapan CCTV.

“Soal fotocopy KTP elektronik di gerai, itu sebenarnya kalau di provider lain sama. Kita cuma diminta memperlihatkan (KTP) saja, enggak ada yang minta fotocopy-nya. Nah, ini prosedur bakunya belum jelas.”

Ilham yang sedang berada di luar negeri ketika penipu beraksi punya dua kemungkinan terkait penggunaan SIM cardnya.

Pertama, mengaktifkan kartu Indonesia yang tentu saja harganya mahal. Kedua, menggunakan kartu provider milik provider di Australia.

“Ini si penipu mengetahui kalau korban sedang berada di luar negeri,” tegas Alfons.

“Makanya dia datang ke gerai (Indosat). Ketika diminta melakukan SIM Swapping, artinya tidak terdeteksi. Logikanya, sebuah pertukaran SIM pasti bikin kartu korban tidak aktif.”

Alfons menilai operator telekomunikasi harus memiliki sistem dan prosedur baku mengenai peraturan, pertukaran SIM card di gerai maupun customer service.

Berkaca dari kasus penipuan yang menimpa Ilham Bintang, lebih besar kesalahan dari operator karena dengan mudahnya melakukan pertukaran SIM tanpa kroscek dengan teliti.

“Prosedur harus lebih ketat untuk mengganti SIM card ini,” ujarnya.

Ia menuturkan, ketika seorang mendatangi customer service untuk melakukan pertukaran SIM, maka operator punya hak penuh untuk melakukan kroscek dan verifikasi.

Apakah kroscek itu melalui jejak telepon, jejak SMS, sehingga tidak sembarangan main ganti kartu tanpa ada tujuan jelas.

Sebelumnya diberitakan, wartawan senior dan pengusaha Ilham Bintang rekening bank miliknya kebobolan. Ketika itu ia sedang berada di Australia. Dia baru mengetahui peristiwa pembobolan, Senin (6/1/2020).

Kejadian ini bermula saat pendiri media Cek dan Ricek itu berada di Sydney, Australia, Sabtu (4/1/2020) pagi. Ia mendapati kartu seluler Indosat miliknya menunjukkan kata ‘SOS’ dan tidak ada jaringan. Padahal, Ilham sudah membeli paket roaming untuk digunakan di Australia saat tiba di Sydney sejak (30/12/2020) pagi.

Ternyata, subscriber identity module (SIM) atau kartu seluler miliknya dicuri oleh orang tak dikenal. Si pelaku melakukan penipuan dengan modus pertukaran SIM (SIM Swapping). Artinya, SIM yang dipegang oleh korban berganti kepemilikan kepada orang lain. Akibatnya, uang berjumlah ratusan juta di rekening bank miliknya dikuras. [rif]

Berita Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *