Kata Wahyu Setiawan, KPK Salah Tafsir Soal Kode ‘Siap Mainkan’

  • Whatsapp

INDOPOLITIKA.COM – Kode ‘Siap Mainkan’ saat ini sedang populer. Kode tersebut pertama kali diungkapkan oleh KPK terkait kasus dugaan suap yang melibatkan eks komisioner KPU Wahyu Setiawan terkait Pergantian Antar Waktu (PAW) Harun Masiku.

Kata Wahyu Setiawan, ada salah tafsir dalam kode ‘siap mainkan’ yang dipopulerkan KPK. Hal itu diungkapkan dalam sidang etik Dewan Kehormatan Penyelenggara Pemilu (DKPP).

Bacaan Lainnya

Menurut dia, ‘siap mainkan’ bukan kode tertentu. Istilah itu sudah biasa ia ucapkan untuk menindaklanjuti sesuatu.

“Pada saat PDI Perjuangan yang memberi informasi kepada saya bahwa akan bersurat kepada KPU, saya menjawab ‘siap mainkan’,” kata Wahyu saat sidang di Gedung KPK, Setiabudi, Jakarta Selatan, Rabu (15/1/2020).

Dalam surat ketiga itu, PDI Perjuangan meminta KPU memasukkan calon anggota legislatif (caleg) Harun Masiku menggantikan Riezky Aprilia sebagai caleg terpilih dari Daerah Pemilihan Sumatra Selatan (Sumsel) 1. Wahyu menghubungi stafnya untuk menerima surat itu.

“Maksud saya, surat yang dikirim ke KPU kemudian ditindaklanjuti pada waktu itu. Saya tidak ada di kantor, saya menghubungi staf saya, saya mengabari ada surat dari PDIP, tolong diterima,” terang Wahyu.

Ia mengaku belum menerima secara fisik surat dari PDI Perjuangan itu. Surat baru ia terima dalam bentuk salinan yang dikirimkan lewat aplikasi pesan WhatsApp.

“Saya tidak pernah memegang suratnya,” ucap Wahyu.

Seperti diketahui, Wahyu Setiawan telah ditetapkan sebagai tersangka bersama Harun Masiku, Agustiani Tio Fridelina, dan Saeful. Tiga di antaranya sudah ditahan, sementara Harun masih buron.

Wahyu diduga menerima suap Rp 600 juta dari komitmen fee sebesar Rp 900 juta. Rinciannya, Rp 400 juta diterima Wahyu dari Harun melalui Saiful dan Agustiani. Sementara Rp 200 juta masih didalami KPK terkait sumber dananya.

Suap tersebut diduga untuk memuluskan langkah Harun menggantikan anggota DPR dari PDIP, Riezky Aprilia, melalui mekanisme Pergantian Antarwaktu (PAW).

Kasus ini diduga menyeret Sekjen PDIP Hasto Kristiyanto. Sebab, Saeful disebut-sebut merupakan staf Hasto. Terkait hal tersebut, Hasto membantah terlibat kasus dugaan suap itu. Hasto menyebut ia telah menjadi korban tudingan tak benar.[ab]

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *