Nasional

Kemenkes: Kelelahan Jadi Pemicu Meninggalnya Petugas Pemilu

Sekretaris Jenderal Kemenkes RI drg. Oscar Primadi, MPH mengatakan banyaknya petugas Pemilu yang meninggal dipicu oleh kelelahan. Hal ini dapat dipahami mengingat sebelumnya petugas tersebut telah mengidap penyakit tertentu sebagai faktor risiko.

Oscar menyontohkan seorang petugas yang meninggal memiliki penyakit jantung. Seharusnya seseorang dengan faktor risiko penyakit ini tidak boleh terlalu lelah. Namun, saat bertugas, ia dituntut untuk menyelesaikan pekerjaan dengan cepat dan tepat. Inilah yang berdampak pada jantungnya.

Hingga saat ini, telah diterima laporan dari 17 provinsi yang menunjukkan bahwa meninggalnya petugas Pemilu bukan karena kelelahan, melainkan kelelahan menjadi pemicu penyakit yang diidap oleh petugas menjadi semakin parah.

“Kita melihat beberapa provinsi yang sudah kita dapatkan datanya kita melihatnya tidak ada hal yang berhubungan langsung (dengan kelelahan), tapi berkaitan dengan penyakit bawaan yang diderita petugas, di mana kelelahan menjadi trigger dari pada ini (meninggalnya petugas Pemilu),” kata Sekjen, Senin (13/5) di Jakarta.

Terjadinya kematian itu, tambah Oscar, setelah diinvestigasi, korban memiliki penyakit dan terpicu karena kelelahan.

“Ada 13 penyakit, yang paling mendominasi jantung, kemudian infarct myocard, koma hepatikum, stroke, dan hipertensi. Ini penyakit-penyakit yang memang sisi angka Riskesdas 2018 penyakit ini banyak diderita oleh masyarakat kita. Ini yang memang berkaitan dengan penyakit tidak menular,” katanya.

Berdasarkan Riskesdas 2018, prevalensi stroke sebesar 10,9 perseribu penduduk, meningkat dari angka Riskesdas 2013 yang hanya 7 perseribu penduduk.

Penyakit jantung 1,5 % pada Riskesdas 2018, sementara Riskesdas 2013 menunjukkan prevalensi jantung koroner berdasarkan pernah didiagnosis dokter di Indonesia sebesar 0,5%, dan berdasarkan diagnosis dokter atau gejala sebesar 1,5 %. Prevalensi gagal jantung berdasarkan pernah didiagnosis dokter di Indonesia sebesar 0,13 persen, dan berdasarkan diagnosis dokter atau gejala sebesar 0,3%.

Untuk hipertensi Riskesdas 2018 menunjukkan angka 8,4% berdasarkan diagnosis dokter, dan 8,8% diagnosis berdasarkan dokter atau minum obat antihipertensi. Sementara pada Riskesdas 2013 menunjukkan 9,4% diagnosis dokter dan 9,5% diagnosis berdasarkna dokter dan minum obat antihipertensi.

Sekjen juga mengatakan TPS yang banyak polusi asap rokok dapat memperburuk kondisi kesehatan petugas.

Namun demikian, sebelum pelaksanaan pencoblosan pada 17 April 2019, Kemenkes sudah berkomunikasi dengan teman-teman daerah, di dinas kesehatan dan rumah sakit untuk waspada.

“Kemudian pada 22 April 2019, Kemenkes menegaskan dengan surat edaran untuk membantu membackup teman-teman (petugas Pemilu) yang bertugas di lapangan untuk menyiapkan posko kesehatan dan alhamdulilah itu bergerak seluruh Indonesoa dan kita backup betul,” ucap Sekjen.

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Close
Close