Kemalangan Baru Menimpa Pengungsi Muslim Etnis Rohingya di Bangladesh

  • Whatsapp
Pagar kawat berduri yang dibangun di sekeliling kamp-kamp pengungsian etnis Rohingya di perbatasan Bangladesh.

INDOPOLITIKA.COM- Sungguh malang nasib muslim etnis Rohingya. Di negaranya Myanmar ditindas. Lari mengungsi ke luar negeri dikekang. Begitulah nasib yang dialami pengungsian etnis Rohingya di perbatasan Bangladesh.

Seperti dilansir dari AFP Rabu (11/12/2019), militer Bangladesh saat ini mulai membangun pagar di sekeliling kamp-kamp pengungsian etnis Rohingya di perbatasan.

BACA JUGA:

Seorang koresponden AFP melihat sekelompok pasukan berseragam militer mendirikan pilar untuk pagar kawat berduri di sekitar sebuah penampungan besar etnis Rohingya di Balukhali, tenggara Cox’s Bazar.

Kamp itu dikabarkan menampung hampir satu juta anggota minoritas Rohingya. Komisaris Urusan Pengungsi Bangladesh Mahhbub Alam Talukder mengatakan, pembangunan pagar pembatas memang telah dimulai. Namun, ia menolak berkomentar lebih lanjut terkait hal tersebut.

Sementara itu, Panglima Angkatan Darat Bangladesh, Jenderal Aziz Ahmed, menuturkan pihaknya memang telah mendirikan pilar-pilar. Militer, paparnya, juga telah memesan kawat berduri untuk dipasang di pilar-pilar tersebut.

Pembangunan pagar berduri ini dilakukan menyusul rasa frustasi Bangladesh yang terus harus menampung hampir 1 juta pengungsi Rohingya akibat krisis kemanusiaan di Negara Bagian Rakhine, Myanmar, pada pertengahan 2017 lalu.

Pihak berwenang Bangladesh bahkan mulai melarang para pengungsi meninggalkan kamp-kamp pengungsian. Sejumlah pos-pos keamanan di sekitar kamp kerap mencegat pengungsi Rohingya yang ingin pergi keluar tempat penampungan bahkan ke bagian negara lain di Bangladesh.

Selain pembatasan pergerakan, Bangladesh juga telah memblokir internet, menyita kartu izin mengemudi (SIM), dan telepon seluler di kamp-kamp pengungsian.

Serangkaian pembatasan itu, termasuk pembangunan pagar berduri, pun menuai protes dari sejumlah petinggi etnis Rohingya di Bangladesh. Itu membatasi pergerakan kami. Kami harus berjalan jauh untuk mendapat jatah makanan dari pihak berwenang. Anak-anak tidak bisa bermain lagi,” kata Mohammad Hashim, salah satu tokoh Rohingya di penampungan itu.

Di awal 2018, Bangladesh dan Myanmar sepakat memulai tahap pemulangan Rohingya ke Rakhine. Namun, hingga kini proses repatriasi itu tak menunjukkan progres. [sgh]

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *