Kerap Kritisi Anies, William PSI: Saya ‘Anjing’ Penjaga yang Harus Selalu ‘Menggonggong’

  • Whatsapp
Anggota DPRD DKI Jakarta, William Aditya Sarana.

INDOPOLITIKA.COM – Politisi PSI yang kini duduk sebagai anggota DPRD DKI Jakarta, William Aditya Sarana benar-benar mencerminkan sosok anak muda yang patut diacungi jempol. Karena sebagai wakil rakyat, Willim kerap bersuara lantang mengkritisi kebijakan maupun ‘keanehan’ anggaran yang ditemukan di Pemprov DKI Jakarta.

William pun tidak segan-segan menyebut dirinya (maaf), ‘anjing’ penjaga yang harus selalu menggonggong. “Saya sebagai Anggota DPRD yang dipilih rakyat adalah anjing penjaga. Setiap ada keanehan maka harus menggonggong. Inilah tugas saya,” tegas William melalui akun twitternya, dikutip indopolitika.com, Jumat (24/1/2020).

Bacaan Lainnya

Karenanya, selama menjalani tugas sebagai wakil rakyat, William yang  heboh karena mengungkap anggaran fantastis lem aica aibon itu meminta kepada pihak-pihak yang tidak suka dirinya berisik untuk mencamkan hal itu. “Jadi mohon maaf kalau ada orang yang kesal karena saya berisik,” sambungnya.

Pernyataan ini nampaknya mesti disampaikan William karena melihat revitalisasi Monas yang membuat miris, dengan mengorbankan puluhan pohon yang mesti ditebang. Dalam kasus ini, politisi PSI memang keras bersuara. Termasuk juga saat PSI melaporkan hal ini ke KPK meski ditolak.

“Proyek di Monas sampai Rp 71.3 Milliar tapi pemenang tender lokasinya pas dicek di google map kok di perkampungan begitu? Bisa dijelaskan pak gub @aniesbaswedan,” kicauanya sebelumnya.

“Sudah pohon Monas dibabat, lokasi pemenang tender proyeknya di perkampungan pula. Harus ada penjelasan yang clean dan clear,” cuit dia lagi.

Ini beberapa cuitan kritis William ke Anies:

Soal PKL

“Saya tegaskan apa yang dilakukan pak Anies bertentangan dengan hukum karena saya telah memenangkan gugatan di Mahkamah Agung yang mencabut pasal yang memberikan kewenangan Gubernur untuk menjadikan trotoar/jalan sebagai tempat berdagang”.

Naturalisasi Sungai

“Kebabalasan buat janji kampanye tidak mau menggusur dan merelokasi warga di bantaran sungai. Ga taunya ketika jd Gubernur, konsep naturalisasi sungai pun harus merelokasi warga. Jangan membuat janji yang impossible tapi enak didengar. Jadinya malah tidak dieksekusi sama sekali”.

Penggunaan Toa

“Tahun 2008 pak Anies masuk 100 intelektual dunia. Tapi pas ditanya solusi peringatan dini banjir, jawabanya pakai toa. Mengecewakan”.

“Sudah kaya di zaman Perang Dunia ke II. Ada cara yg lebih modern. Pertama, hidupkan kembali fitur peringatan yang sekarang mati di aplikasi “Pantau Banjir.” Kedua, bagi yang ga punya smartphone, di kirim SMS. Come on, you can do better pak @aniesbaswedan”.

“Melelahkan mendengarkan pernyataan Gubernur @aniesbaswedan seperti ini terus. Menurut saya sudah pakai tehnik firehose of falsehood. Beliau PhD politik di Amerika, mengerti pasti betapa bahayanya tehnik itu”.

“Inti masalah dari kebanjiran DKI Jakarta adalah Gubernur Anies Baswedan tidak mengerjakan apa yang sudah dijanjikan. Mau normalisasi atau naturalisasi, yang penting dikerjain”.[asa]

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

2 Komentar