Internasional

Ketegangan Mewarnai Hasil Pemilu Zimbabwe, Pedemo Ditembaki

Polisi anti huru hara ZImbabwe hadapi pedemo di Harare (Foto: AFP).

Harare: Zimbabwe pada Kamis 2 Agustus 2018 menunggu hasil pemilihan presiden. Sementara pasukan menembaki demonstran yang protes atas dugaan kecurangan pemilu. Insiden ini menodai harapan era baru bagi negara itu setelah tersingkirnya Robert Mugabe.
 
Pemerintah Rabu malam berjanji memberlakukan tindakan keras keamanan demi mencegah kerusuhan lebih lanjut. Menyusul tentara melepaskan tembakan guna membubarkan protes oposisi di Harare. Akibatnya sedikitnya tiga orang tewas.
 
Pemungutan suara Senin — yang pertama sejak presiden otokratik Mugabe terpaksa mundur oleh pendongkelan militer pada November — dimaksudkan untuk mengubah bertahun-tahun pemilu yang dirusak kekerasan dan penindasan brutal terhadap perbedaan pendapat.
 
Namun suasana cepat berubah menjadi kemarahan dan kekacauan ketika pendukung oposisi Gerakan untuk Perubahan Demokratis (MDC) menyatakan bahwa mereka dicurangi dalam penghitungan suara.
 
"Kamu bilang kamu lebih baik dari Mugabe, kamu adalah fotokopi Mugabe," teriak seorang pemrotes laki-laki muda yang mengenakan T-shirt putih. "Kami membutuhkan keamanan untuk rakyat," serunya, seperti dikutip dari AFP, Kamis 2 Agustus 2018.
 
Tentara menembaki demonstran selama demonstrasi MDC di pusat kota Harare, saksi AFP melihatnya, dengan satu orang tewas setelah ditembak di perut.
 
Hasil resmi Rabu menunjukkan bahwa partai berkuasa ZANU-PF menang mudah atas kursi mayoritas dalam pemilihan parlemen. Sekaligus memperkuat prospek Presiden Emmerson Mnangagwa memegang kekuasaan dalam pemilihan presiden.
 
Para pendukung MDC, yang mengklaim pemimpin mereka, Nelson Chamisa, memenangkan pemungutan suara, membakar ban-ban, dan menurunkan rambu-rambu jalan ketika protes menyebar dari markas besar partai di Harare.
 
Polisi mengkonfirmasi jumlah korban tewas tiga orang. Sedangkan Mnangagwa mengeluarkan pernyataan yang menyalahkan oposisi atas kerusuhan dan korban jiwa.
 
"Kami minta oposisi Aliansi MDC dan seluruh pimpinannya bertanggung jawab atas gangguan perdamaian nasional ini," katanya, seraya menambahkan pemerintah berupaya memastikan pemilu berlangsung damai.
 
Mnangagwa, 75, telah menjanjikan pemungutan suara yang bebas dan adil setelah militer mengantarnya berkuasa pada November ketika Mugabe dipaksa mengundurkan diri.

Tags

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Close
Close