Ketimbang Tokoh Populer, CSIS Nilai Peluang Ketum Parpol Nyapres Lebih Besar

  • Whatsapp

INDOPOLITIKA.COM – Peneliti Centre for Strategic and International Studies (CSIS), Arya Fenandes menilai peluang para ketua umum atau elite partai politik (parpol) maju di Pemilihan Presiden (Pilpres) 2024 tergantung dari perolehan suara partai.

Dia menegaskan bagi parpol yang punya suara tinggi cukup terbuka lebar untuk maju menjadi Calon Presiden (Capres) 2024.

Berita Lainnya

“Perolehan suara partai akan pengaruhi tinggi rendahnya kemampuan elite partai untuk melakukan koalisi. Semakin tinggi suara partai maka daya tawarnya tinggi,” kata Arya kepada wartawan, Selasa (14/9/2021).

Menurut dia, peluang elite parpol seperti PDIP, Gerindra dan Golkar tentu saja lebih mudah. Dalam hal ini, Puan Maharani, Prabowo Subianto dan Airlangga Hartarto.

“Daya tawarnya berbeda dengan (parpol) yang 5 persen,” imbuhnya.

Namun, kata dia, peluang para ketum dan elite parpol maju jadi capres jauh lebih besar ketimbang tokoh populer. Misalnya, Ganjar Pranowo, Anies Baswedan dan Ridwan Kamil.

“Kalau elite parpol memblok dukungan untuk calon populer, artinya mereka punya kesempatan untuk sama-sama bertarung. Kalau itu terjadi tentu elektabilitas seimbang semua,” jelas dia.

Namun sebaliknya, jika ada satu parpol yang deklarasi capres dengan elektabilitas tinggi misalnya Ganjar, Anies atau Ridwan Kamil. Maka, parpol lain juga akan mencari lawan yang seimbang.

Arya mengakui, Prabowo adalah ketum parpol satu-satunya yang memiliki elektabilitas capres tinggi. Tapi, kata dia, elektabilitas ketum Gerindra tersebut stagnan. Sehingga masih bisa terkejar oleh ketum lain seperti Airlangga, Muhaimin Iskandar dan AHY.

“Ada peluang (mengejar),” tegas Arya.

Arya juga bicara keuntungan dan kelemahan seorang pemimpin parpol menjadi presiden. Menurut dia, presiden tak harus menjadi pemimpin parpol. Hal itu dapat dibuktikan dengan kepemimpinan Presiden Jokowi. Meskipun bukan pemimpin parpol, tapi mendapatkan dukungan parpol yang dominan.

“Kalau dia ketua partai, dia lebih mudah, dukungannya akan lebih solid. Tapi kalau parpolnya enggak dominan meski ketua parpol susah juga,” kata Arya lagi.

Bagi Arya, di tengah situasi saat ini, Indonesia membutuhkan pemimpin yang memiliki wawasan ekonomi kuat. Presiden ke depan harus memiliki visi menaikan kelas Indonesia menjadi negara berpendapatan tinggi. Masuk ke dalam daftar negara maju.

“Lalu punya visi kesejahteraan publik, bagaimana mengurangi angka kemiskinan, kesenjangan antara kaya dan miskin, lakukan pemerataan pembangunan,” tutup Arya.[fed]

Berita terkait


INDOPOLITIKA TV

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *