Ketua DPR Minta Masyarakat Tenang, Tak Perlu Ada People Power

  • Whatsapp

Indopolitika.com – Ketua DPR, Bambang Soesatyo mengimbau, di Ramadan bulan penuh berkah ini, masyarakat sebaiknya tetap tenang dan tidak mudah terprovokasi. Menjalankan ibadah puasa juga harus ditunjukan dengan keharmonisan, menjaga kehidupan sosial berbangsa, sehingga tidak hanya menjalin hubungan baik dengan Allah SWT, melainkan juga dengan manusia.

“Mengingat pada 22 Mei 2019 Komisi Pemilihan Umum akan menetapkan hasil rekapitulasi penghitungan suara, maka tidak menutup adanya kemungkinan provokasi dari segelintir orang yang menginginkan terjadinya gejolak di masyarakat. Tapi Ramadan mengajarkan kita untuk mengendalikan hawa nafsu dan menahan ego pribadi,” ujar Bamsoet, saat menjadi tuan rumah buka puasa bersama, di rumah dinas ketua DPR, Jakarta, Senin (13/5/2019).

Baca Juga:

Selain dihadiri Presiden Joko Widodo dan Wakil Presiden Jusuf Kalla, tampak hadir pula sejumlah pimpinan lembaga tinggi negara, seperti Ketua MPR, Zulkifli Hasan, Ketua DPD, Oesman Sapta Odang, Ketua Mahkamah Agung, Hatta Ali, Ketua Mahkamah Konstitusi, Anwar Usman, Wakil Ketua BPK, Bahrul Akbar, Wakil Ketua DPR, Utut Hardianto, Fahri Hamzah, dan Agus Hermanto.

Hadir pula sejumlah ketua umum dan sekjen partai politik, antara lain Ketua Umum Partai Golkar, Airlangga Hartarto, Ketua Umum PKB, Muhaimin Iskandar, Ketua Umum PPP, Suharso Monoarfa, Ketua Umum PKPI, Diaz Hendro Priyono, Sekjen Demokrat, Inca Panjahitan, Sekjen PPP, Hasrul Sani, Wakil Ketua KPK, Laode Syarif, pimpinan fraksi dan pimpinan komisi, para menteri Kabinet Kerja, seperti Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Bappenas, Bambang Brodjonegoro, Menteri Luar Negeri, Retno LP Marsudi, Mensekneg Pratikno, Menseskab Pramono Anung, Menkeu Srimulyani, Mendes Eko Prasojo, Wakapolri Ari Dono, Kasum TNI Joni, pimpinan BIN, Jaksa Agung, M Prasetyo, mantan Kepala BIN, Hendro Priyono dan sejumlah duta besar negara sahabat.

Legislator Dapil VII Jawa Tengah yang meliputi Kabupaten Purbalingga, Banjarnegara, dan Kebumen ini menilai, tidak perlu ada people power dalam menyikapi hasil Pemilu 2019, karena seluruh tahapan penyelenggaraan pemilu sudah dilakukan sebaik mungkin. Jikapun ada kekurangan atau kesalahan di beberapa hal, itu bisa diselesaikan sesuai mekanisme hukum yang berlaku. Bukan dengan cara represif mengganggu keamanan dan ketertiban masyarakat.

People power biasa dilakukan, jika sebuah bangsa menghadapi krisis ekonomi berkepanjangan ataupun kepemimpinan otoriter yang dijalankan tanpa proses mekanisme check and balances. Indonesia tidak mengalami hal itu. Ekonomi kita baik, check and balances dijalankan antara pemerintah sebagai eksekutif maupun DPR sebagai legislatif. Ada juga MPR dan DPD, maupun media massa dan organisasi kemasyarakatan yang turut mengawasi jalannya roda pemerintahan,” tutur Bamsoet.

Kepala Badan Bela Negara FKPPI ini justru memandang perlunya bangsa Indonesia bersyukur karena di Ramadan kali ini berhasil menyelesaikan berbagai tahapan Pemilu 2019 yang dikenal dengan pemilu terumit di dunia. Di bulan yang suci ini, sudah saatnya semua pihak kembali bersatu sebagai sebuah bangsa dengan melakukan rekonsiliasi dan menjalin tali silaturahim dengan semua komponen bangsa.

“Bagi yang menang pemilu jangan jumawa, bagi yang kalah harus berlapang dada. Hasil pemilu bukanlah kiamat yang menandakan berakhirnya kehidupan. Tidak perlu berlebihan menyikapinya. Masih ada kesempatan di waktu yang akan datang untuk maju kembali dalam pemilihan, tanpa perlu mengorbankan persaudaraan di bulan Ramadan,” pungkas Bamsoet.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *