Ketua IGI: Tahu Apa Nadiem Soal Pendidikan Negeri Ini   

  • Whatsapp
Ketua IGI Muh Ramli Rahim.

INDOPOLITIKA.COM – Terpilihnya mantan bos gojek, Nadiem Makarim sebagai Menteri Pendidikan dan Kebudayaan masih menjadi perdebatan sebagian kalangan. Ada yang menilai pantas-pantas saja, dan sebaliknya mempertanyakan kapasitas lulusan Brown University Amerika itu.

Salah satu yang mempertantanyakan kapasitas Nadiem yakni, Ketua Umum Ikatan Guru Indonesia Muhammad Ramli Rahim. “Nadiem Anwar Makarim memang Alumni Brown University Amerika Serikan dan juga Alumni Harvard Business School Amerika Serikat tetapi tahu apa Nadiem soal pendidikan negeri ini?” kata Ramli dalam keterangan tertulisnya, kemarin.

Baca Juga:

“Anak-anak SD kita tamat SD lebih dari 80 persen dinyatakan gagal Matematika dan juga gagal literasi, juga gagal di sains, lalu apa yang bisa dilakukan Nadiem?” kata Ramli lagi.

Menurut Ramli, meskipun Nadiem sukses dalam bisnis transportasi online, ia tidak cocok untuk memimpin sebuah kementerian yang dipenuhi orang-orang pintar dan berpendidikan tinggi.

Dia menjelaskan, tahun 2045 Indonesia bermimpi menjadi negara maju dengan PDB terbesar keempat dunia, sedangkan pada tahun 2030 adalah puncak bonus demografi Indonesia. Hasil PISA, kompetensi generasi bangsa di bidang matematika, reading dan sains berada pada level 0-2 dan dicap bangsa Indonesia baru bisa menghadapi abad 21 setelah 1000 tahun mendatang.

Kekurangan guru pegawai negeri sipil (PNS) di sekolah negeri mencapai 1.141.176 orang belum termasuk 391.644 guru yang akan pensiun pada tahun 2020 hingga 2024. Dengan kondisi tersebut, kata Ramli, hampir bisa dipastikan bahwa pendidikan dasar dan menengah kita akan lumpuh total ketika seluruh guru honorer yang pendapatannya jauh lebih rendah dari driver gojek itu menyatakan ‘mogok mengajar’.

Ramli mengatakan, hingga kini SMK masih menduduki peringkat tertinggi jumlah pengangguran di Indonesia. Minimnya guru produktif dan minimnya “produksi” guru produktif yang sesuai dengan bidang keahlian di SMK adalah gunung masalah yang cukup untuk menutup mata menteri. “Ini belum termasuk masalah pendidikan tinggi yang juga penuh masalah,” tandasnya.[asa]

 

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *