Nasional

KH Ma’ruf Amin: Islam Agama yang Universal

ISLAM merupakan agama yang universal. Misinya tak lain ‘rahmatan lil ‘alamiin,’ rahmat bagi sekalian alam, dengan tidak membedakan kelompok, suku, golongan atau bangsa.

Islam bukan hanya saja merupakan agama penutup bagi agama-agama yang dibawa rasul (Surat Al Ahzab: 40), tapi juga merupakan agama yang diturunkan oleh Allah Swt untuk seluruh umat manusia, dimana pun ia berada, dan kapanpun ia hidup.

“Dan kami tidak mengutus kamu, melainkan kepada ummat manusia seluruhnya sebagai pembawa berita gembira dan sebagai pemberi peringatan, tetapi kebanyakan manusia tiada Mengetahui (Surat Saba’: 28).”

“Oleh karenanya, ajaran Islam memiliki prinsip-prinsip yang sempurna untuk menjawab setiap permasalahan yang muncul, dimanapun dan kapanpun,” kata KH Ma’ruf Amin (KMA), Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI), dalam sebuah kesempatan belum lama ini.

Ia kembali menukil firman Allah Swt, “..pada hari ini Telah Kusempurnakan untuk kamu agamu, dan Telah Ku-Cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan Telah Ku-Ridhoi Islam itu jadi agama bagimu (Surat Al-Maidah: 3).

“Dan Kami turunkan kepadamu al-Kitab (al-Quran) untuk menjelaskan segala sesuatu dan petunjuk serta rahmat dan kabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri (Surat An- Nahl: 89).

Dengan demikian menurutnya, ajaran Islam menyediakan solusi atas permasalahan yang dihadapi ummat manusia melalui nash syara’ (teks syariat), baik yang di dalam al-quran ataupun hadist Nabi Muhammad Saw.

Hanya saja lanjut KMA, nash syara’ tersebut adakalanya menyebutkannya secara langsung dan jelas (tersurat, manshush), dan adakalanya secara tidak langsung (tersirat, ghairu manshush) dengan menjelaskan prinsip-prinsipnya saja.

Mungkin muncul pertanyaan, bagaimana nash syara’ (al-quran dan hadist) yang terbatas, karena al-Quran sebagai wahyu yang diturunkan dan hadist sebagai penjelasnya telah terhenti hingga Nabi Muhammad Saw wafat akan mampu menjawab berbagai permasalahan yang muncul sesudahnya sampai akhir zamann

Tentu saja jawabannya lanjut KMA, “sangat mungkin.” Karena nash syara’ yang terkait dengan prinsip-prinsip keagamaan tersebut selain ada yang bersifat spesifik juga ada yang bersifat umum dan global, sehingga dimungkinkan bagi setiap muslim untuk menggalinya lebih dalam – melalui ijtihad, kapanpun dan dimanapun, ketika dibutuhkan suatu hokum untuk menjawab setiap permasalahan yang muncul.

KMA menambahkan, menggali nash secara lebih dalam melalui ijtihad harus dilakukan sesuai dengan syarat dan rukun ijtihad. Melalui mekanisme ijtihad inilah lahir berbagai pendapat ahli agama (ulama) sebagai respon terhadap persoalan yang muncul di zamannya. Apabila pendapat ulama tersebut dianggap sudah tidak memadai untuk menjawab persoalan yang muncul kemudian, disebabkan karena berubahnya situasi dan kondisi (‘illat) yang melingkupinya, maka dilakukan ijtihad baru oleh ulama sesudahnya.

“Begitu seterusnya sampai akhir masa. Hasil dari ijtihad yang dilakukan para ulama untuk mendapatkan solusi atas permasalahan yang dihadapi dalam waktu dan tempat yang berbeda tersebut disebut fikih,” tukasnya.

Tags

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Close
Close