Kiai Mumtaz

  • Whatsapp

“Kiai Mumtaz!” Begitu Cak Nur pernah menyebut Kiai Haji Ahmad Rifa’i Arief suatu waktu. Kisah itu saya dengar dari Kiai Adrian, putra kedua Almarhum. Cerita itu bahkan ia abadikan di salah satu karyanya, “Surabi Pesantren: Suara Bestari Pesan-Pesan Trendy” (2018), sebuah karya yang secara khusus dipersembahkan untuk menyambut 50 Tahun Daar el-Qolam.

Sematan sebagai Kiai Mumtaz boleh dibilang tak terlalu berlebihan, terutama bagi para santri yang sempat menyaksikan beliau memimpin pesantren, mengajar, berkeliling pondok sekadar menengok para santri yang tengah beristirahat di waktu senja, atau berjalan kaki dari satu gedung ke gedung lain untuk membangunkan para santri yang terlalu lelap dalam tidur.

Berita Lainnya

Mumtaz (bahasa Arab) bermakna istimewa, terbaik, sempurna, alias excellent, dalam versi Inggris-nya. Mungkin tak keliru kalau mengenal pribadi Kiai Rifai yang ikhlas, cerdas, pandai, cerdik, tenang, pengayom, penyabar, dan rendah hati. Gabungan perangai positif inilah yang membuatnya dijuluki mumtaz alias istimewa. Saya sering mendapat cerita bagaimana Kiai Rifai selalu tenang menghadapi persoalan pelik yang membelitnya. Kiai Rifai tidak kalut, apalagi lari mengindari masalah yang datang silih berganti. Setiap masalah yang mendera selalu disyukuri sebagai ujian kenikmatan, sekaligus ibrah (pelajaran) yang bakal menempa pribadi menjadi lebih kuat dan matang.

Nurcholish Majid bersama Kiai Haji Ahmad Rifa’i Arief

Gelar mumtaz benar-benar melekat pada dirinya, misalnya, saat berkomunikasi dengan para wali santri yang datang berkeluh kesah atau berbincang guna menitipkan anak tercinta kepada pondok. Mereka yang datang dengan perasaan kalut, biasanya pulang dengan hati tenang. Mereka yang bersua meminta izin agar anak-anak mereka diajarkan ilmu agama, pasti pulang ke rumah dengan perasaan nyaman. Tak ada kekhawatiran sejengkal pun. Yakin sekali, kalau anak-anak sudah berada di tangan dan tempat yang pas, mereka akan dididik dengan sangat baik.

Atau juga kala menjalin komunikasi kepada dewan guru yang berada di garda terdepan dalam mendidik para santri. Kiai Rifai memberi kepercayaan penuh kepada para asatidz untuk menanamkan kebaikan ke diri para santri. Kepercayaan inilah yang membuahkan kreativitas, inisiatif, dan tanggung jawab.

15 Juni 1997, 24 tahun silam, Kiai Mumtaz itu berpulang, selepas zuhur, di atas sajadah yang menjadi alasnya bersujud menghadap Sang Ilahi Rabbi. Selepas salat, beliau benar-benar menghadap Sang Rabb, Pemilik Alam Raya Semesta. Inilah momen kepergian yang paling dinanti setiap insan di dunia: datang menghadap Allah dalam keadaan suci, selepas merapalkan takbir dan tahmid kepada-Nya.

Allahummagfirmahu warhamhu wa’afihi wa’fu’anhu
Lahu al-Fatihah

Ditulis oleh: Fachrurozi Majid
Alumnus Daar el-Qolam, 1998

Berita terkait


INDOPOLITIKA TV

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *