Ada Apa Hari Ini?

Kisah Patriotisme Dalam Insiden Perobekan Bendera di Hotel Yamato

  • Whatsapp
Potret kisah patriotisme pemuda Surabaya saat merobek bendera Belanda di Hote Yamato

INDOPOLITIKA.COM- Pasca proklamasi kemerdekaan, pemerintah kala itu mengeluarkan maklumat. Mulai 1 September 1945 bendera sang saka Merah Putih wajib dikibarkan terus di seluruh wilayah Indonesia.

Seperti dikutip dari wikipedia, gerakan pengibaran bendera itu meluas ke seluruh pelosok nusantara termasuk ke setiap sudut kota Surabaya. Di berbagai tempat strategis bendera Indonesia dikibarkan.

Baca Juga:

Di teras atas gedung kantor karesidenan (gedung Gubernuran sekarang, Jalan Pahlawan) di muka gedung Kempeitai (sekarang Tugu Pahlawan), di atas Gedung Internatio, sang saka merah putih gagah berkibar.

Pemandangan nasionalisme makin kentara tatkala barisan pemuda dari segala penjuru Surabaya datang ke Tambaksari (Stadion Gelora 10 November). Mereka datang membawa bendera merah putih, untuk menghadiri rapat raksasa. Lapangan Tambaksari penuh lambaian bendera merah putih disertai pekik ‘Merdeka’ .

Hotel Yamato kini menjadi Hotel Majapahit

Pihak Kempeitai yang telah melarang diadakannya rapat tersebut, tidak dapat menghentikan dan membubarkan massa. Klimaks gerakan pengibaran bendera di Surabaya terjadi pada insiden perobekan bendera di Yamato Hoteru / Hotel Yamato atau Oranje Hotel (sekarang bernama Hotel Majapahit) di Jalan Tunjungan Nomor  65 Surabaya.

Peristiwa itu awalnya terjadi saat sekelompok orang Belanda di bawah pimpinan Mr. W.V.Ch Ploegman pada malam hari 19 September 1945, tepatnya pukul 21.00, mengibarkan bendera Belanda (Merah-Putih-Biru), tanpa persetujuan Pemerintah RI Daerah Surabaya, di tiang Hotel Yamato, sisi sebelah utara.

Keesokan harinya para pemuda Surabaya yang melihat, menjadi marah. Mereka menganggap Belanda telah menghina kedaulatan Indonesia, hendak merebut kekuasan, dan melecehkan gerakan pengibaran bendera Merah Putih yang sedang berlangsung di Surabaya.

Kabar tersebut tersebar cepat di seluruh kota Surabaya. Jalan Tunjungan dalam tempo singkat dibanjiri oleh massa yang marah. Massa terus mengalir, hingga memadati halaman Hotel Yamato plus halaman gedung yang ada di sampingnya. Di sisi agak belakang halaman hotel, beberapa tentara Jepang berjaga-jaga untuk mengendalikan situasi.

Residen Sudirman, pejuang dan diplomat yang saat itu menjabat sebagai Wakil Residen (fuku syuco gunseikan) yang juga Residen Daerah Surabaya Pemerintah RI, datang melewati kerumunan massa lalu masuk ke hotel Yamato dikawal Sidik dan Hariyono.

Dia berunding dengan Mr. Ploegman dan meminta agar bendera Belanda segera diturunkan. Ploegman menolak. Bahkan dia enggan mengakui kedaulatan Indonesia. Perundingan memanas.  Ploegman mengeluarkan pistol, dan terjadilah perkelahian dalam ruang perundingan. Ploegman tewas dicekik oleh Sidik, yang kemudian juga tewas oleh tentara Belanda yang berjaga-jaga.

Di luar hotel, para pemuda yang mengetahui perundingan memanas, langsung mendobrak masuk ke Hotel Yamato. Terjadilah perkelahian di lobi hotel. Sebagian pemuda berebut naik ke atas hotel untuk menurunkan bendera Belanda.

Hariyono bersama Sudirman kembali ke dalam hotel dan terlibat dalam pemanjatan tiang bendera. Bersama Kusno Wibowo mereka berhasil menurunkan bendera Belanda, merobek bagian birunya, dan mengereknya ke puncak tiang kembali.

Peristiwa ini disambut oleh massa di bawah hotel dengan pekik ‘Merdeka’ berulang kali.[sgh]

Berita terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *