Internasional

Kisah Warga Singapura yang Selamat dari Gempa Palu

Warga berjalan di tengah reruntuhan banyak rumah di Palu, Sulteng, 1 Oktober 2018. (Foto: AFP/ADEK BERRY)

Singapura: Seorang warga Singapura berhasil selamat dari gempa bumi dan tsunami yang melanda Sulawesi Tengah pada Jumat 28 September. Ng Kok Choong, pria pensiunan berusia 53 tahun, berada di Palu untuk mengikuti perlombaan paralayang. 

Saat baru saja meninggalkan sebuah hotel tempatnya menginap, Ng merasakan "bumi tiba-tiba bergetar sangat keras."

"Saya langsung jatuh ke tanah dan bahkan tidak bisa duduk. Saya terguling-guling dan melihat sebuah kereta kuda terbalik," kata Ng, menggambarkan saat-saat awal gempa.

"Saya melihat hotel berguncang, banyak debu di sekelilingnya, dan sebagian bangunannya runtuh," lanjut dia, seperti dilansir dari Channel News Asia, Minggu 30 September 2018.  

Bersama seorang temannya, Francois, Ng hanya berjarak 50 meter dari hotel yang roboh. Ng kemudian menyadari gelombang air laut di dekat hotel tempatnya menginap mulai berkecamuk, yang dianggapnya sebagai pertanda kedatangan tsunami.

Demi menghindari tsunami, kedua lelaki itu mencari tempat yang lebih tinggi. Mereka akhirnya kembali ke reruntuhan hotel. Di sana, mereka bertemu seorang gadis kecil dan ibunya yang terjebak di puing-puing hotel.


Ng berada hanya 50 meter dari hotel yang roboh. (Foto: Ng Kok Choong)

Ibu dan anak itu menangis. Ng dan Francois berupaya menarik mereka keluar. "Kami berhasil menarik keluar gadis kecil, tetapi ibunya terjebak," kata Ng, yang terus mengkhawatirkan kedatangan tsunami.

Francois berlari menjauhi tsunami bersama gadis kecil dan suami dari istri yang terjebak. "Ibu gadis itu tidak dapat ditolong," ungkap Ng.

Baca: Satu Warga Korsel di Palu Masih Dinyatakan Hilang

Jaringan Telekomunikasi Terputus

Ng mencoba menyelamatkan diri sendiri dengan bergerak ke tempat yang lebih tinggi. Di sana, dia berdiam menunggu tsunami mereda sekira 30 menit.

Setelah memastikan aman, dia kembali ke lokasi ibu gadis kecil itu berada. Ng mendengar suara minta tolong dari ibu tersebut. "Saya kembali tapi tidak bisa berbuat apa-apa untuknya. Saya hanya mencoba menenangkannya," kata Ng.

Ibu itu terjebak sekitar satu hingga dua jam, sampai akhirnya beberapa penduduk setempat datang membantu. "Entah bagaimana caranya, kami bisa mengangkat beton dan menariknya keluar," cetus dia.


Ng Kok Choong berhasil selamat dari gempa dan tsunami di Palu. (Foto: Ng Kok Choong)

Selanjutnya, Ng diminta pergi ke pusat darurat yang didirikan beberapa penduduk setempat. Di sana, dia bertemu kembali dengan Francois dan si gadis kecil. Pusat darurat itu memberi dia dan sekitar 40 korban lainnya air minum serta kasur untuk beristirahat.

"Beberapa orang menangis, tetapi umumnya tenang," kata Ng.

Panitia lomba paralayang kemudian menemukan Ng dan Francois. Keduanya lalu dibawa ke lapangan terbuka, dan diminta tinggal hingga siang hari.

Awalnya Ng tidak dapat menghubungi keluarga karena saluran telepon dan koneksi terputus setelah gempa dan tsunami. Tetapi begitu berhasil menghubungi istrinya, Ng memintanya menghubungi Kementerian Luar Negeri (MFA) Singapura terkait situasi di Sulteng.

Keesokan harinya, Ng mencari paspor dari reruntuhan hotel tempatnya menginap. Ia naik ke lantai empat hotel, menghancurkan jendela dengan palu dan berhasil menyelamatkan barang-barangnya, termasuk paspor.

Evakuasi Militer

Dibantu panitia paralayang, Angkatan Udara Indonesia mengatur jalannya evakuasi militer di bandara domestik Palu.

Mereka yang menunggu evakuasi, termasuk Ng, diantar ke sebuah pesawat militer sekitar pukul 14:00 Waktu Indonesia Tengah menuju ke Makassar, dan kemudian Jakarta.

Ketika mencapai Jakarta, ia memesan penerbangan ke Singapura. Dia tiba di Singapura pada Minggu, pukul 12.30 siang waktu setempat.

"Saya senang bisa pulang dan bertemu kembali istri saya," kata Ng. Setelah mendarat, dia mengetahui bahwa lima orang dari tim paralayangnya masih hilang.

"Merupakan pengalaman yang sangat mengerikan. Saya rasa tidak ada orang yang bisa benar-benar bersiap menghadapi gempa sebesar ini," tutur Ng.

"Saya rasa semua orang bisa mempelajari semua hal tentang gempa. Tapi saat gempa benar-benar terjadi, kekuatannya begitu besar dan Anda tidak akan bisa lari kemana-mana."

"Saya beruntung dapat berhasil keluar dari hotel dalam keadaan selamat," tutup dia.

 

Tags

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Close
Close