Internasional

Koalisi Arab Saudi Akui Serangan Bus di Yaman Suatu Kesalahan

Sekelompok bicah menghadiri pemakaman anak-anak korban serangan udara di Saada, Yaman, 13 Agustus 2018. (Foto: AFP/STR)

Riyadh: Arab Saudi dan Uni Emirat Arab (UEA) mengakui bahwa pengeboman terhadap sebuah bus sekolah di Yaman bulan lalu "tidak dapat dibenarkan." Pengeboman menewaskan 51 orang, termasuk 40 anak-anak.

Penyelidikan oleh koalisi Arab Saudi yang bertempur melawan pemberontak Houthi di Yaman berakhir pada Sabtu 1 September 2018. Kesimpulan dari penyelidikan adalah telah terjadi "kesalahan" dalam serangan udara 9 Agustus di provinsi Saada.

Di hari serangan terjadi, juru bicara koalisi Arab Saudi Kolonel Turki al-Malki membela diri. Ia menilai pasukannya melakukan "operasi militer yang sah."

Namun dalam sebuah konsesi yang sangat jarang terjadi, badan investigasi internal koalisi Arab Saudi — Tim Penilai Insiden Bersama (JIAT) — mengatakan bahwa pihak di balik serangan itu harus bertanggung jawab.

"Tim Gabungan berpendapat pasukan koalisi harus melakukan tindakan hukum untuk menghukum mereka yang bertanggung jawab atas kesalahan tersebut," kata Mansour Ahmed al-Mansour, penasihat hukum untuk JIAT, mengatakan kepada awak media di Riyadh.

Baca: Puluhan Anak Dikabarkan Tewas dalam Serangan di Yaman

Alan Fisher, reporter Al Jazeera, yang melaporkan dari Djibouti, menyebut pernyataan koalisi menandai "perubahan arah yang luar biasa," setelah sebelumnya membela serangan udara di Saada.

"Tetapi jika Anda meneliti kata-katanya, mereka (koalisi) tidak mengatakan ada masalah dengan membunuh anak-anak," cetus dia, dalam situs Al Jazeera.

Penyelidikan atas serangan di Saada dilakukan setelah mendapat tekanan internasional, terutama seruan dari Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres.

Geert Cappelaere, direktur regional UNICEF di Timur Tengah dan Afrika Utara, mengecam keras serangan tersebut.

Berbicara kepada Al Jazeera dari Sanaa, aktivis pro-Houthi Hussain al-Bukhaiti menilai pernyataan koalisi "bukan permintaan maaf."

Pengakuan dari koalisi Arab Saudi dan UE muncul sepekan setelah Human Rights Watch (HRW) menuduh kedua negara membuat "kesimpulan meragukan" dalam analisis serangan di Saada.

Tags

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Close
Close