Konflik Internal Berkepanjangan Disebut Jadi Penyebab Hanura Tersingkir Dari Senayan

  • Whatsapp
Ketua DPP Partai Hanura Inas Nasrullah

INDOPOLITIKA.COM – Kegagalan Partai Hanura pada Pileg 2019 turut menjadi perhatian peserta Rapat Pimpinan Nasional (Rapimnas) Partai Hanura. Rapat yang dihadiri Ketua DPD Hanura se Indonesia menilai, konflik internal berkepanjangan dan terganggunya Ketum Hanura Oesman Sapta Oedang (OSO) mencalonkan diri sebagai calon anggota DPD turut memengaruhi perolehan suara partai itu.

Akibatnya, partai yang didirikan Mantan Menkopolhukam Wiranto itu tersingkir dari Senayan. Perolehan suara Hanura tidak cukup memenuhi ambang batas parlementary treshold (PT) 4 persen suara nasional. Partai itu hanya memperoleh dua persen suara. Ketua DPP Partai Hanura Inas Nasrullah menyatakan, tersingkirnya Partai Hanura dari DPR bukan karena jumlah Caleg yang berlaga kurang. Hanya lebih dari 409 Caleg dari total kursi 500 an.

Baca juga:

“Bukan karena kurangnya jumlah Caleg yang ke DPR RI. Tapi karena kemaren persoalannya lelah pertikaian. Konflik internal. Bang OSO kan baru terima jabatan itu dua tahun menjelang Pileg. Baru sebentar menjabat, digoyang oleh konflik internal akibat adanya Suding dan kawan-kawan. Sehingga pecah sampai kebawah. Tambah lagi diganjal-ganjal lagi dengan status beliau sebagai Ketum parpol yang mau maju DPD. Pasti ada dikerjain orang kan,” katanya kepada Indopolitika, Jumat (22/11/2019).

Karena itu, saat ini mereka fokus mempersiapkan diri menghadapi Pileg 2024. Mereka akan mencoba mengubah strategi perekrutan calon yang akan diusung. “Kami harus siapkan tokoh-tokoh yang sudah dikenal publik untuk maju di Pileg DPR,” ujarnya

Dia tidak khawatir dengan potensi naiknya syarat PT. Apalagi, Parpol menengah dan besar kecenderungannya akan menaikan PT. Menurut dia, faktor figur sentral dalam partai politik ataupun yang diusung masih sangat menentukan.

“Tapi partai besar juga kan ada pasang surutnya. Begitu partai itu punya figur sentral, begitu partai itu punya Capres, naik elektabilitasnya. Tapi begitu dia tidak punya figur, turun elektabilitasnya. Demokrat itu contohnya. Demokrat itu pernah hampir 20 persen. Sekarang tinggal berapa? Enam sampai 7 persen kan,” ungkapnya.[ab]

Berita Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *