INDOPOLITIKAKamboja mengatakan enam warga sipil tewas dan sembilan terluka dalam dugaan serangan Thailand di provinsi perbatasan dalam beberapa hari terakhir.

Kamboja menuduh militer Thailand menggunakan senjata berat dan jet tempur F-16 untuk menyerang target militer dan sipil di wilayah Kamboja, termasuk sekolah, rumah sakit, dan pagoda.

Menurut Menteri Penerangan Kamboja, Neth Pheaktra, hingga Senin (8/12/2025) sore, empat warga sipil tewas dan sembilan lainnya luka-luka dalam serangan-serangan Thailand di sepanjang wilayah perbatasan di Provinsi Preah Vihear dan Oddar Meanchey.

Kementerian Pertahanan Nasional Kamboja menambahkan bahwa pasukan Thailand melepaskan tembakan ke Provinsi Banteay Meanchey di perbatasan setelah tengah malam, menewaskan dua warga sipil yang sedang berkendara di Jalan Raya Nasional 56 akibat tembakan artileri.

Puluhan ribu orang juga dievakuasi “setelah penembakan hebat” oleh militer Thailand, sebuah tindakan yang digambarkan Phnom Penh sebagai pelanggaran serius terhadap integritas wilayah Kamboja dan perjanjian damai antara kedua negara.

Kementerian Pertahanan Nasional Kamboja membantah klaim Daerah Militer 2 Thailand yang menyatakan bahwa pasukan Kamboja telah mengerahkan kembali senjata berat di sepanjang perbatasan.

Letnan Jenderal Maly Socheata, juru bicara kementerian, mengatakan informasi tersebut tidak benar dan bertujuan menyesatkan opini publik sebagai alasan untuk meningkatkan ketegangan.

Kamboja menegaskan bahwa pihaknya tetap berkomitmen untuk sepenuhnya menghormati gencatan senjata dan perjanjian perdamaian antara kedua negara.

Sementara itu, Wilayah Militer 2 Thailand menuduh pasukan Kamboja melancarkan serangan baru pagi ini, menembakkan peluncur roket ganda BM-21 ke empat lokasi di perbatasan Thailand: Sam Taet, Phoo Phee, Chong Ta Tew, dan Kuil Ta Kwai. Thailand merespons “sesuai aturan keterlibatan untuk menetralisir ancaman.”

Perdana Menteri Thailand Anutin Charnvirakul mengatakan di Bangkok pada 8 Desember bahwa konfrontasi saat ini di sepanjang perbatasan “tidak dapat diselesaikan melalui negosiasi.”

“Tanggapan kami adalah menegaskan bahwa mereka tidak boleh mengancam kedaulatan Thailand. Mulai sekarang, tidak akan ada negosiasi. Jika Kamboja ingin mengakhiri pertempuran, mereka harus mengikuti peta jalan yang ditetapkan Thailand,” tegas Perdana Menteri Anutin.

Ketika ditanya berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk mengendalikan situasi, ia menolak memberikan kerangka waktu, dan mengatakan itu adalah masalah strategis.

“Jika terungkap, itu tidak akan baik bagi negara. Dalam urusan operasi, pertahanan negara, dan kesiapan tempur, banyak hal yang harus dirahasiakan sepenuhnya,” tambahnya.

Ketika ditanya apakah perjanjian damai antara Thailand dan Kamboja yang ditandatangani di Malaysia masih berlaku dalam konteks saat ini, Anutin menjawab, “Tidak. Saya tidak ingat apa isinya,” kilahnya. (Red)

Cek berita dan artikel menarik lainnya di Google News Indopolitika.com