Konflik Nelayan vs Pengembang Reklamasi Teluk Jakarta Sudah Main Beceng, 2 Orang Ditahan Polisi

  • Whatsapp
Megaproyek reklamasi Teluk Jakarta

INDOPOLITIKA.COM- Eskalasi konflik nelayan versus pengembang proyek pulau reklamasi Teluk Jakarta  makin meningkat. Konflik ini dipicu oleh aktivitas proyek yang dinilai mengganggu penghidupan nelayan sekitar.

Yang terbaru dua orang nelayan Dadap, Muhamad Alwi dan Sukanda ditahan di Polda Metro Jaya. Keduanya jadi tersangka perbuatan tidak menyenangkan setelah dilaporkan oleh pengembang Pulau C lantaran memprotes aktivitas reklamasi di sana.

Muat Lebih

Kuasa hukum kedua tersangka, Pius Situmorang menjelaskan kronologi perkaranya. Awalnya kedua belayan itu memprotes aktivitas kapal tongkang di pesisir Kamal Muara dan Pulau C. Kasus itu terjadi pada 11 Desember 2017.

“Saat itu para nelayan menuntut ganti rugi terhadap bagan/tambak ternak kerang hijau yang rusak karena aktivitas kapal tongkang batu merah dan kapal penyedot pasir di pesisir Kamal Muara dan Pulau C, hasil reklamasi,” beber Pius dalam keterangannya kepada wartawan, Rabu (20/11/2019).

Para nelayan memprotes aktivitas reklamasi lantaran budi daya kerang hijau para nelayan terganggu akibat adanya proyek tersebut. Kekesalan para nelayan bertambah dengan perilaku pengembang yang hingga kini tidak pernah mensosialisasikan aktivitas proyeknya.

“Selain itu, Amdal (Analisis Dampak Lingkungan) dan biaya ganti rugi pembebasan lahan saat pembangunan Pulau C juga belum dicairkan kepada para nelayan,” tuturnya.

Pasca aksi protes itu, tak ada upaya musyawarah dalam penyelesaian perselisihan. Sebaliknya kapal keruk pengembang justru kembali beroperasi pada 11 Desember 2017.

“Nelayan yang membawa 40 kapal lantas kembali melayangkan protes dengan mendatangi kapal itu,” imbuh Pius.

Bukannya mengajak dialog, kata Pius, pengembang malah mengerahkan ormas untuk meredam aksi nelayan. Saat itu sempat ada nelayan yang ditodong dengan senpi rakitan alias beceng.

Seusai kejadian itu Alwi tiba-tiba mendapat surat panggilan bernomor S.Pgl/6840/VII/2018/Ditreskrimum. Lalu pada 30 Juli 2018, Alwi dipanggil sebagai saksi dalam perkara dugaan tindak pidana perbuatan memaksa seseorang dengan ancaman kekerasan.

“Kekerasan yang dimaksud dalam pasal 335 KUHP atas nama pelapor MRD selaku koordinator dari PT KML (pengembang),” sambungnya.

Sekian lama kasus berlalu, Alwi kembali dikejutkan dengan surat panggilan pada 13 November 2019. Dalam surat panggilan baru nomor B/7764/XI/RES.1.24/2019/Ditreskrimum, Alwi ditetapkan sebagai tersangka dan kemudian ditahan polisi.

“Saat memenuhi panggilan tersebut saudara Alwi tidak diizinkan pulang dan langsung ditahan di Rumah Tahanan Polda Metro Jaya hingga saat ini,” lanjutnya.

Selain Alwi, Pius juga menyebutkan bahwa Ade juga ikut ditahan. Hingga berita diturunkan, Dirkrimum Polda Metro Jaya Kombes Suyudi Ario Seto yang coba dimintai konfirmasi wartawan enggan mengangkat telponnya. [sgh]

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *