Kontroversi Salam Pancasila, Benarkah Diusulkan Kepala BPIP?

  • Whatsapp
Yudian Wahyudi, saat dilantik sebagai Kepala BPIP, beberapa waktu lalu.

INDOPOLITIKA.COM – Kepala Badan Ideologi Pembina Pancasila (BPIP) Yudian Wahyudi kembali menggegerkan publik tanah air, dengan kontroversi menggantikan ‘Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh’ menjadi salam pancasila. Sebelum salam pancasila, Yudian juga membuat heboh dengan pernyataan lainnya, ‘agama musuh terbesar pancasila’.

Namun, (maaf) bukanya bermaksud membela Yudian, terkait kontroversi salam pancasila ini, dari hasil penelusuran indopolitika.com, tidak ada pernyataan spesifik dari Yudian jika dia atau BPIP berencana menggantikan salam, ‘Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh’ menjadi salam pancasila.

Bacaan Lainnya

Wawancara itu didokumentasikan dalam sebuah video yang diunggah oleh Detik.com pada Rabu 12 Februari 2020 pada artikel yang berjudul “Blak-blakan Prof Yudian Wahyudi: Kepala BPIP Sebut Agama Jadi Musuh Terbesar Pancasila”.

Dari video berdurasi sekitar 39 menit itu, Yudian saat itu mengulas tentang refleksi atas masalah kebangsaan terkini, tantangan hidup bermasyarakat di era Reformasi, praktek nilai-nilai Pancasila di era Orde Baru dan sekarang, serta bagaimana BPIP bekerja untuk membumikan nilai Pancasila tersebut ke dalam kehidupan masyarakat. Dalam konteks ini, tidak ada pernyataan baru dari Yudian selaku Kepala BPIP seperti menggantikan Asslamualaikum dengan salam pancasila.

Dialog itu dimulai dengan pertanyaan dari host terkait dengan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan pada 1978-1983, Daoed Joesoef. Pertanyaan itu merupakan lanjutan dari dialog sebelumnya tentang bagaimana mewujudkan persatuan di tengah kemajemukan agama.

Berikut petikan wawancaranya:

“Saya teringat dengan catatan Prof. Daoed Joesoef (Menteri Pendidikan di era Orde Baru) ketika menjadi jadi Menteri tidak pernah sekalipun mengucapkan Assalamualaikum di hadapan publik. Tapi ketika (bertemu) pribadi fasih betul (mengucapkan Assalamualaikum). Mungkinkah nilai-nilai semacam Daoed Joesoef ini dihidupkan kembali?,” begitu pertanyaan presenter detik.com Aleksander Sudrajat.

“Dulu kita sudah mulai nyaman dengan Selamat Pagi (sebagai salam nasional). Tapi sejak reformasi diganti dengan Assalamualaikum, total, maksudnya dimana-mana, tidak peduli ada orang Kristen Hindu, pokoknya hajar saja. Tapi karena mencapai titik ekstrimnya maka sekarang muncul kembali. Kita kalau salam sekarang ini harus 5 atau 6 (sesuai dengan agama-agama). Nah ini jadi masal;ah baru lagi,” ujar Yudian.

“Sekarang sudah ditemukan oleh siapa gak tau Yudi latief atau siapa yang lain (yang namanya) Salam Pancasila,” tambah Yudian.

“Jadi sependapat dengan Salam Pancasila?” sela presenter

“Iya, Salam Pancasila. Salam itu kan maksudnya mohon ijin atau permohonan kepada seseorang sekaligus mendoakan agar kita selamat. Itulah makna salam. Nah Bahasa Arabnya Assalamualaikum Wr Wb” jelas Yudian.

Untuk menjelaskan pernyataannya, Yudian menambahkan, “Sekarang kita ambil contoh, ada hadis “kalau anda sedang berjalan dan ada orang duduk, maka ucapkan salam. Itu kan maksudnya adaptasi sosial”.

“Itu di jaman agraris. Sekarang jaman industri dengan teknologi digital. Sekarang mau balap pakai mobil, salamnya pakai apa? Pakai lampu atau klakson. Kita menemukan kesepakatan-kesepakatan bahwa tanda ini adalah salam. Jadi kalau sekarang kita ingin mempermudah, seperti dilakukan Daoed Joesoef, maka untuk di public service, cukup dengan kesepakatan nasional, misalnya Salam Pancasila,”.

“Itu yang diperlukan hari-hari ini. Daripada ribut-ribut itu para Ulama, kalau kamu ngomong Shalom  berarti kamu jadi orang Kristen,” jelasnya.

“Wong Nabi Muhammad SAW saja mendoakan raja Najasi yang Kristen saat wafat. Ada unsur kemanusiaan. Nah kita juga begitu, ngomong Shalom tidak ada unsur teologisnya. Wong kita sampaiukan (salam) supaya kita damai. Maaf, bagi orang Kristen mengucapkan salam juga tidak menjadi bagian teologis. Itu kode nasional yang tidak masuk dalam akidah. Kalau bisa dipakai tidak masalah,” bebernya.

Dari pernyataan Yudian ini,  nampaknya tidak ada penekanan narasi yang dengan spesifik disampaikan menggantikan Assalamualaikum dengan Salam Pancasila. Yang disampaikan Yudian adalah mengenai kesepakatan-kesepakatan nasional mengenai tanda dalam bentuk salam dalam pelayanan publik, dalam kaitan ini kesepakatannya adalah Salam Pancasila.[asa]

 

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *