Korupsi Proyek Fiktif, KPK Panggil 5 Orang Saksi, 4 Diantaranya dari Internal PT Waskita Karya

  • Whatsapp
Gedung KPK

INDOPOLITIKA.COM – Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menjadwalkan pemeriksaan terkait kasus korupsi pelaksanaan pekerjaan subkontraktor fiktif pada 14 proyek yang dikerjakan PT Waskita Karya (Persero) Tbk. Pada pemeriksaan ini, KPK memanggil lima orang saksi untuk mendalami kasus korupsi yang menjerat tersangka mantan Kepala Divisi (Kadiv) II Waskita Karya, Fathor Rachman alias FR.

Dari kelima saksi yang dipanggil KPK itu empat diantaranya berasal dari internal PT Waskita Karya (Persero) Tbk, yakni tiga orang karyawan, Fakih Usman, Ebo Sancoyo, Happy Syarief dan Wagimin yang menjabat sebagai Staf Keungan Divisi II.

Baca Juga:

Sementara, satu orang lagi berasal dari eksternal yakni, karyawan PT Pura Delta Lestari yang juga mantan Dirut PT Aryana Sejahtera, Happy Syarief.

“Hari ini diagendakan pemeriksaan lima orang saksi dalam kasus korupsi pelaksanaan pekerjaan subkontraktor fiktif pada proyek yang dikerjakan PT Waskita Karya (Persero) Tbk, untuk tersangka FR,” kata Juru Bicara KPK, Febri Diansyah saat dikonfirmasi, Rabu (30/10/2019).

Sebelumnya diketahui, KPK telah mempertajam bukti-bukti korupsi pekerjaan fiktif dalam 14 proyek yang digarap PT Waskita Karya lewat pemeriksaan tiga orang karyawan PT Waskita Karya.

“Ketiganya diperiksa sebagai saksi untuk melengkapi berkas tersangka FR (Fathor Rachman, mantan Kepala Divisi II PT Waskita Karya),” ujar Juru bicara KPK Febri Diansyah saat dikonfirmasi, Selasa (22/10/2019).

Ketiga saksi dari unsur karyawan Waskita tersebut antara lain Tri Mulyo Wibowo, Kwatantra dan Julizar ‎Kurniawan.

Lebih jauh, Febri menjelaskan pemeriksan ketiganya untuk mendalami skandal PT Waskita Karya atas 14 proyek yang digarap.‎

“‎Penyidik mendalami keterangan saksi terkait proses pembuatan, pembayaran dan pertanggungjawaban kontrak fiktif pada proyek-proyek di PT Waskita Karya (persero) Tbk,” tuturnya.

Dalam kasus ini, Fathor, serta mantan Kabag Keuangan dan Risiko Divisi II PT Waskita Karya Yuly Ariandi Siregar diduga menunjuk sejumlah perusahaan subkontraktor untuk melakukan pekerjaan fiktif pada 14 proyek yang dikerjakan oleh PT Waskita Karya.

Adapun proyek itu tersebar di Sumatera Utara, Banten, Jakarta, Jawa Barat, Bali, Kalimantan Timur, sampai Papua.

Proyek-proyek tersebut sebenarnya telah dikerjakan oleh perusahaan lainnya, namun tetap dibuat seolah-olah akan dikerjakan oleh empat perusahaan yang teridentifikasi sampai saat ini. Diduga empat perusahaan tersebut tidak melakukan pekerjaan sebagaimana yang tertuang dalam kontrak.‎

Atas subkontrak pekerjaan fiktif ini, PT Waskita Karya selanjutnya melakukan pembayaran kepada perusahaan subkontraktor tersebut. Setelah menerima pembayaran, perusahaan-perusahaan subkontraktor itu menyerahkan kembali uang pembayaran dari PT Waskita Karya tersebut kepada sejumlah pihak, termasuk yang diduga digunakan untuk kepentingan pribadi Fathor dan Ariandi.

Atas tindak pidana ini, negara ditaksir menderita kerugian sampai Rp 186 Miliar. Perhitungan tersebut merupakan jumlah pembayaran dari PT Waskita Karya kepada perusahaan-perusahaan subkontraktor pekerjaan fiktif tersebut.‎

Ihwal kasus ini, tim penyidik telah menyita sejumlah dokumen penting. Dokumen-dokumen terkait proyek yang digarap PT Waskita Karya tersebut disita tim penyidik pasca menggeledah sejumlah lokasi beberapa waktu lalu, salah satunya rumah Direktur Utama PT Jasa Marga, Desi Arryani.

Diketahui, sebelum menjabat sebagai Dirut Jasa Marga, Desi merupakan Direktur Operasi I PT Waskita Karya. [rif]

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *