INDOPOLITIKA – Indonesia dinilai berada dalam situasi darurat terkait kasus anak yang mengakhiri hidup. Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) menyebut angka kejadian di Indonesia sebagai yang tertinggi di kawasan Asia Tenggara.
Anggota KPAI, Diyah Puspitarini, menegaskan bahwa fenomena ini tidak lagi bisa dianggap sebagai peristiwa terpisah atau masalah biasa. Menurutnya, kondisi tersebut sudah sangat mengkhawatirkan dan tidak boleh dinormalisasi.
“Secara umum, Indonesia sedang berada dalam kondisi darurat anak mengakhiri hidup,” ujar Diyah, dikutip Kamis (12/2/2026).
Berdasarkan data KPAI, tren kasus dalam beberapa tahun terakhir menunjukkan kondisi yang memprihatinkan.
Pada 2023 tercatat 46 kasus, tahun 2024 sebanyak 43 kasus, sepanjang 2025 terdapat 26 kasus, dan di awal 2026 sudah dilaporkan 3 kasus.
Meski jumlahnya terlihat naik turun, fakta bahwa kasus terus terjadi setiap tahun menjadi peringatan serius bagi semua pihak.
Kasus terbaru anak bunuh diri terjadi di Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur, yang melibatkan seorang siswa sekolah dasar. Peristiwa ini kembali menegaskan bahwa persoalan kesehatan mental dapat dialami anak dari berbagai usia dan jenjang pendidikan.
Diyah juga mengingatkan kejadian serupa di Kebumen, Jawa Tengah, pada 2023. Saat itu, seorang anak diduga mengakhiri hidup setelah tidak diberi uang jajan dan kemudian menceburkan diri ke sungai.
Peristiwa-peristiwa seperti ini, menurutnya, menunjukkan adanya persoalan mendasar yang sering kali tidak terdeteksi sejak awal.
Data KPAI mencatat bahwa faktor terbesar pemicu kasus adalah perundungan (bullying). Selain itu, faktor pengasuhan, kondisi ekonomi, pengaruh gim daring, serta persoalan asmara juga turut berkontribusi. Hal ini menunjukkan bahwa masalah yang tampak sepele bagi orang dewasa bisa menjadi tekanan berat bagi anak.
KPAI menegaskan bahwa kasus ini terjadi setiap tahun, bahkan pada anak usia sekolah dasar. Situasi tersebut menjadi sinyal kuat bahwa isu kesehatan mental anak harus mendapat perhatian serius.
Peran keluarga, sekolah, dan lingkungan sekitar sangat penting dalam mengenali perubahan perilaku anak sejak dini. Pendekatan yang lebih empatik, komunikasi yang terbuka, serta pengawasan yang bijaksana menjadi langkah mendesak guna mencegah kejadian serupa terulang.
Kasus ini bukan sekadar angka dalam statistik, melainkan menyangkut masa depan generasi yang seharusnya tumbuh dengan rasa aman, dukungan, dan perhatian penuh.(Hny)












Tinggalkan Balasan