KPK Temukan Bukti Baru Dalam Kasus Korupsi Dirut Pelindo II RJ Lino

  • Whatsapp
Wakil Ketua KPK Laode M. Syarif

INDOPOLITIKA.COM- Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menyatakan ada perkembangan baru dalam penyelidikan kasus dugaan korupsi Proyek pengadaan tiga unit QCC di PT Pelindo II dengan tersangka mantan Dirut Richard Joos Lino.

Wakil Ketua KPK Laode M. Syarif mengatakan perkembangan itu terkait dengan penghitungan kerugian negara dalam kasus tersebut.

Baca Juga:

“Ada perkembangan yang bagus, misalnya, untuk perkaranya Pak Lino, sekarang BPK [Badan Pemeriksa Keuangan] sudah mau menghitung,” kata Laode dalam media gathering KPK di Sukabumi, Sabtu (26/10/2019).

Kata dia, lembaga antirasuah sebelumnya memang terbentur soal kerugian keuangan negara dalam penyidikan kasus R.J Lino yang sudah berjalan empat tahun ini.

Lanjut Laode, BPK juga selama ini sudah membantu KPK untuk mengungkap aliran dana dan penghitungan dana. Namun belum menemukan titik terang.

Segala upaya untuk membongkar kasus ini dilakukan oleh KPK, sampai KPK  menggandeng asesor independen yang ahli dari Indonesia dalam memetakan data harga QCC pembanding dengan China.

Belakangan kendala penghitungan kerugian negara itu diperparah lantaran pihak Mutual Legal Assistance (MLA) pada otoritas China tidak menanggapi.

MLA disini memang sangat diperlukan guna mendapatkan harga unit QCC karena produsennya berasal dari perusahaan asal China. Wuxi Huangdong Heavy Machinery (HDHM).

“Kami pakai asesor independen begitu yang ahli di Indonesia, jadi walaupun tanpa harga pembanding dari China, itu bisa kita hitung dan BPK sudah menghitung jadi mudah-mudahan itu bisa lebih lancar ke depan,” ujar Laode.

Soal kapan diterimanya hasil penghitungan kerugian keuangan negara diperoleh KPK untuk melanjutkan ke tahap dua penuntutan, Laode enggan menjawabnya.

Laode juga membantah pengusutan kasus ini sengaja dipercepat karena akan berakhirnya masa jabatan KPK Jilid IV pimpinan Agus Raharjo 1 Desember 2019 mendatang.

Sebelumnya, RJ Lino disangkakan oleh KPK telah melawan hukum menyalahgunakan kewenangannya sebagai Dirut PT Pelindo II melakukan korupsi untuk memperkaya diri dan golongannya serta korporasi.

Lino, diduga telah memerintahkan penunjukan langsung terhadap perusahaan asal China Auxi Huangdong Heavy Machinery, sebagai pelaksana proyek pengadaan tiga unit QCC di PT Pelindo II.

Sejauh ini, KPK belum melakukan penahanan terhadap RJ. Lino yang telah menyandang status tersangka sejak 2015 lalu. [pit]

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *