Pemerintahan

KSP Gelar Forum Inovasi Sektor Pertanian, Bahas Pemanfaatan Lahan Salin hingga Platform ‘Pak Tani’

JAKARTA- Perkembangan teknologi harus dimanfaatkan dengan membuat inovasi-inovasi di bidang pertanian. Misalnya inovasi yang dikembangkan Fakultas Pertanian Universitas Jenderal Soedirman yang memanfaatkan lahan salin dengan membuat varietas unggul padi. Lahan salin adalah lahan yang memiliki kadar Na dalam tanah yang tinggi

“Karena pemanasan global seperti perubahan iklim, permukaan air laut naik, sawah gagal panen karena salinitas air dan irigasi naik. Kami membuat varietas unggul guna meningkatkan produktifitas lahan, meningkatkan indeks penanaman padi di lahan pesisir dan meningkatkan produksi padi nasional,” kata Suprayogi dari Universitas Jenderal Soedirman.

Suprayogi, salah satu inovator di bidang pertanian yang hadir dalam diskusi Selasa (18/9/2018) siang di Kantor Staf Presiden. Acara ini dibuka Deputi II Kepala Staf Kepresidenan Yanuar Nugroho, dan diharapkan membantu pemerintah merumuskan kebijakan guna meningkatkan produksi beras dalam negeri. KSP menyelenggarakan Forum Inovator, sebagai kegiatan rutin yang mempertemukan pelaku riset atau penemu, regulator, pelaku usaha dan organisasi masyarakat. Dialog antara pemangku kepentingan tersebut merupakan kunci dari hilirisasi temuan sehingga usaha penelitian tidak berhenti menjadi dokumen publikasi saja. Forum inovator kali ini mengambil tema inovasi di sektor pertanian setelah sebelumnya dilakukan forum di sektor kesehatan pada bulan Juli 2018.

Suprayogi menambahkan, Indonesia memiliki kurang lebih 39,4 juta hektar lahan salin. Apabila 10 persen dari lahan salin dimanfaatkan untuk produksi padi per hektarnya, bisa menghasilkan 2 ton gabah kering panen (GKP).

“Lahan salin di Indonesia bisa memberikan kontribusi padi sebesar 7,8 juta ton GKP per tahun,” katanya.

Ia memaparkan tiga permasalahan hilirisasi, yaitu kultur sosial petani, kebijakan pemerintah daerah dan infrastruktur alam. Hambatan juga datang dari petani yang tidak mau membuat kualitas padi yang baru. Suprayogi berharap dibuat regulasi sehingga optimalisasi pemanfaatan lahan salin melalui penggunaan varietas unggul.

Suharsono peneliti IPB sekaligus pengembang varietas kentang memaparkan pentingnya manfaat dari kentang. Kentang bisa dikonsumsi untuk sayur atau diproses menjadi olahan kentang goreng dan keripik. Pemanfaatan kentang tergantung dari kandungan pati dan gula. Masalah kentang di Indonesia adalah terbatasnya bibit kentang. Selain itu, area tanam juga terbatas hanya di dataran tinggi, yang tidak mempunyai fasilitas irigasi.

“Biaya produksi tinggi, mudah terkena serangan penyakit dan hama juga produksi nasional yang rendah. Produksi kentang harus diproduksi lewat rumah kaca sedangkan di Indonesia rumah kaca sendiri kurang memadai,” katanya.

Kepala Staf Kepresidenan Dr Moeldoko berpendapat sama. Pemanfaatan teknologi bisa dimulai dari benih, kemudian pupuk untuk memperbaiki tanah. Dengan kondisi tanah memburuk membuat produksi menurun dan kualitas menurun.

“Tidak ada pertanian tanpa bantuan teknologi menghasilkan sesuatu yang hebat,” kata Moeldoko yang juga Ketua Himpunan Kelompok Tani Indonesia (HKTI).

Para inovator perlu memikirkan dari ujung penanaman sampai panen sehingga mendapat hasil terbaik yang bisa diekspor ke luar negeri. Informasi dari inovator sektor pertanian ini diharapkan membantu pemerintah untuk memperbaiki produksi padi petani.

“Kita sering lupa proses kesulurahan sampai padi sudah panen, untuk memperlambat kerusakaan tanah dan padi itu sendiri juga penting dipertimbangkan,” ujarnya.

Forum diskusi ini juga dihadiri pengusaha muda Mahendra yang mengembangkan start up aplikasi digital untuk petani. Lewat platform digital bernama ‘Pak Tani’, masyarakat bisa berkomunikasi menjual padinya kepada supplier, koperasi ataupun utuk membeli peralatan tani.

whatsapp-image-2018-09-18-at-16-36-21

“Petani kita undang untuk bisa mengiklankan padi mereka dan beras mereka, kami berikan iklan gratis untuk petani yang mau mengiklankan beras mereka, lokasi mereka dan juga nomer telepon yang bisa dihubungi pembeli beras,” katanya.

Hadir juga dalam diskusi ini perwakilan dari Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi, Badan Penelitian dan Pengembangan Kementerian Pertanian, Badan Penerapan dan Pengkajian Teknologi (BPPT), Yayasan Bina Swadaya, Wakil Rektor Institut Pertanian Bogor, Bussiness Innovation Center dan Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI).

Tags

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Close
Close