Pemerintahan

KSP Sebut Melemahnya Rupiah Malah Bisa Jadi ‘Subsidi’ bagi Eksportir?

JAKARTA – Tampil dalam program ‘Hot Economy’ Berita Satu TV Kamis, 15 Maret 2018 bersama Chief Economist Bank Mandiri Anton Hermanto Gunawan dan presenter Wicky Adrian, Deputi III Kepala Staf Kepresidenan Denni Puspa Purbasari menjelaskan bahwa pelemahan nilai tukar rupiah akhir-akhir inimasih dapat dikelola dampaknya terhadap APBN kita.

Denni menegaskan, pemerintah sudah mengantisipasi depresiasi Rupiah terhadap dollar sejak tahun lalu. “Nota Keuangan APBN pada Agustus 2017 lalu sudah memprediksi suku bunga Amerika Serikat akan naik tiga kali di tahun 2018,” kata pemilik gelar Ph.D. dalam bidang Ilmu Ekonomi dari University of Colorado at Boulder, Amerika Serikat itu.

Namun, Denni menguraikan, ada beberapa peristiwa ekonomi di Amerika Serikat yang tak bisa diprediksi sebelumnya. Misalnya, mundurnya penasihat ekonomi senior dan perombakan kabinet Presiden AS Donald Trump. Ketidakpastian ini mengakibatkan depresiasi kurs juga dialami oleh negara-negara berkembang lainnya. “Juga terjadinya perang dagang antara Amerika Serikat dan China, serta pernyataan Gubernur Bank Sentral AS yang mengagetkan pasar. Yang kaget bukan hanya pelaku pasar di Indonesia, namun global. Karena itu depresiasi juga dialami oleh negara-negara berkembang lainnya,” paparnya.

Staf pengajar Universitas Gadjah Mada Yogyakarta ini menjelaskan, analisis sensitivitas yang dilakukan oleh Kementerian Keuangan menunjukkan bahwa melemahnya Rupiah berdampak positif terhadap APBN, ceteris paribus. “Penerimaan bea keluar, PPh dan PPN migas naik karena kita mengekspor minyak,” kata Denni.

Untuk mengatasi agar tidak terjadi capital outflow akibat melemahnya Rupiah ini, Pemerintah akan memastikan koordinasi dengan otoritas moneter berjalan dengan baik, pertumbuhan ekonomi tetap tinggi, inflasi stabil, fiskal prudent, utang luar negeri terkelola dengan baik, dan reformasi struktural terus berjalan. “Faktor-faktor ini dilihat lembaga pemeringkat dan investor. Jadi ekonomi kita harus tetap kelihatan menarik dan cantik,” kata penerima beasiswa Fulbright ini.

Selain itu, pelemahan nilai rupiah terhadap mata uang asing juga dapat menjadi ‘subsidi’ bagi para eksportir. “Kondisi saat ini justru menjadi hal yang positif, khususnya para eksportir. Ekspor kita semakin kompetitif. Selain itu, ini juga memberi ruang bagi produsen domestik untuk menyediakan substitusi bagi produk impor,” ungkap Denni.

Deputi Bidang Ekonomi Kantor Staf Presiden menggarisbawahi saat ini pemerintah memiliki ‘pekerjaan rumah’ yakni bagaimana mengeksekusi anggaran yang terbatas yang sudah disetujui DPR secara tepat dan cepat, selain dari mencari sumber-sumber pembiayaan dari dalam negeri. “Sayang bila kita sudah pinjam dari luar negeri tapi tidak segera dieksekusi, karena kita tetap harus membayar bunganya.”

Tags

Artikel Terkait

Close
Close