Kucingnya Terisolasi Saat Wabah Virus Corona, Guru Ini Merasa Begitu Frustasi  

  • Whatsapp
Dua ekor kucing yang sangat dikhawatirkan keselamatannya oleh guru Qi. Foto: Xinhua News

INDOPOLITIKA.COM – Segera setelah menyambar ponselnya, Qi Gaohong melompat ke tempat tidur dan membalikkan badannya saat larut malam sambil menatap foto-foto kucing kesayangannya, Xiaomi, yang secara tak terduga terperangkap di sebuah asrama ribuan kilometer jauhnya.

Qi, yang merupakan seorang guru berusia 26 tahun di sebuah sekolah pelatihan di Xiamen, Provinsi Fujian, Tiongkok timur, telah kembali ke kampung halamannya di Provinsi Hebei, Tiongkok utara, beberapa hari sebelum Festival Musim Semi untuk menghabiskan liburan bersama keluarganya.

Bacaan Lainnya

Selama pulang kampung, ia telah menemukan dua orang pengadopsi sementara untuk anjing dan kucingnya, yang salah satunya merupakan seorang temannya yang juga memiliki 2 ekor kucing.

Segalanya tampak sempurna sampai merebaknya wabah virus COVID-19. Pada 23 Januari, dua hari sebelum Festival Musim Semi, atau Tahun Baru Imlek, Tiongkok menerapkan pembatasan lalu lintas di Wuhan, yang merupakan pusat epidemi, demi mengekang penyebaran virus. Disusul pula oleh banyak tempat, termasuk Desa Dongzhai di Xiamen, tempat kucingnya tinggal bersama dua kucing lainnya.

Sang teman, seperti dikisahkan di laman Xinhua News, lalu menelepon Qi pada 11 Februari, mengabarkan bahwa desa itu ditutup dan dia tidak dapat masuk karena tidak memiliki izin khusus yang dibagikan kepada penduduk setempat.

Permintaan temannya untuk memasuki desa dan mengeluarkan kucing tersebut ditolak oleh pekerja komunitas yang sudah bergerak untuk melakukan upaya pencegahan penyebaran virus.

Qi pun khawatir kucingnya akan mati kehausan dan kelaparan dan terus menerus membayangkan nasib kejam yang mungkin menimpa Xiaomi. Bagi Qi, Xiaomi yang berusia dua setengah tahun itu tidak hanya kucing peliharaan, tetapi juga seorang teman yang membuatnya merasa di rumah dan mendukungnya saat ia mengejar karirnya jauh dari rumah.

Xiaomi telah menemaninya siang dan malam selama setahun terakhir. “Setiap hari setelah bekerja, ketika saya pulang sekitar pukul 10 malam, saya akan selalu disambut oleh kucing dan anjing saya,” kenangnya, seraya menambahkan bahwa Xiaomi selalu duduk di lemari sepatu.

Qi telah mengabdikan dirinya untuk menyelamatkan lebih dari 50 kucing dan anjing liar, dan membantu menemukan rumah yang akan merawat mereka. “Saya biasanya membawa hewan peliharaan saya untuk perawatan kecantikan di toko-toko hewan peliharaan, serta membawa mereka bersama saya ketika melakukan perjalanan mandiri,” katanya.

Pukul 10 malam keesokan harinya, Qi memposting sebuah pemberitahuan daring untuk mencari bantuan. “Lebih dari 200 orang mem-posting ulang pemberitahuan saya, termasuk kolega, murid, kerabat saya, dan bahkan orang asing. Beberapa dari mereka menambahkan saya di WeChat,” ujarnya.

“Namun, kebanyakan dari mereka tidak bisa menawarkan lebih dari kata-kata penghiburan,” tambahnya.

Situasi ketidakberdayaan datang menimpa dirinya. Foto-fotonya tentang Xiaomi membantunya dalam meredakan ketakutan dan kecemasannya.

“Beberapa dari mereka menyarankan agar saya mencoba menghubungi pemilik toko di dekat desa, yang mungkin ada cara untuk bertanya kepada kenalan mereka yang dapat memasuki desa dan membawa Xiaomi keluar,” kenangnya, seraya mencatat bahwa meskipun bisa saja itu tampak sia-sia, tetapi dia akan tetap mencobanya.

Pada 13 Februari, sekitar pukul 6 pagi waktu setempat, seorang wanita asing menelepon dan memberi tahu Qi bahwa dia memiliki seorang kenalan yang tinggal di desa dan bersedia membantu, ujar Qi mengingat kembali.

Berkat bantuan yang tepat waktu, temannya akhirnya berhasil sampai ke desa, tetapi ia masih terhalang oleh pintu kamar asrama yang terkunci. Tapi untungnya, seorang warga desa berhasil menghubungi sang pemilik asrama. Kucing-kucing itu pun akhirnya diselamatkan sebelum kehabisan makanan dan air.

“Melihat Xiaomi yang aman dan sehat itu membuatku lega,” katanya, setelah menerima klip video Xiaomi yang diambil temannya setelah kucing itu diselamatkan.

Seluruh “petualangan” itu menghabiskan waktu tiga hari dua malam, sampai-sampai ia tidak bisa tidur selama kurun waktu tersebut.

“Anda tidak akan pernah tahu mana yang akan lebih dulu, sebuah kejadian ataupun hari esok,” kata Qi, seraya menambahkan bahwa pengalaman menyelamatkan Xiaomi meyakinkannya bila di luar sana masih ada orang-orang yang baik hati yang selalu siap untuk membantu.

Dia mencoba mengungkapkan terima kasihnya kepada mereka yang membantunya dengan menawarkan imbalan uang tunai kepada mereka, tetapi semuanya menolak.

Qi pun kembali ke Xiamen pada hari Minggu. Dia berharap epidemi ini akan berakhir sesegera mungkin sehingga dia bisa membawa hewan peliharaannya ke pantai serta menerbangkan layang-layang, dan yang paling penting, mengunjungi orang-orang yang berbaik hati membantunya pada hari itu.[asa]

 

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *