Lahan Belum Dilunasi ke Pemilik, Konsumen Lantaburro Terancam Kehilangan Kavling Buah

  • Whatsapp
Pemilih lahan di Blok Patenggeng, Kavling Buah Lantaburro, Bogor terpaksa mematok tanah miliknya menyusul lahan yang mereka beli oleh pengembang belum juga dilunasi.

INDOPOLITIKA.COM – Ratusan konsumen kavling tanah buah Lantaburro tahap 2 yang telah membeli lahan di Blok Patenggeng Desa Karyamekar, Kecamatan Cariu, Kabupaten Bogor, melalui PT Buana Barokah Lestari (BBL) siap-siap gigit jari. Mereka terancam kehilangan kavling tanah buah yang telah dibelinya.

Kepala Desa Karyamekar Jaji yang telah ditunjuk oleh PT BBL  untuk melakukan pembayaran, saat ini sudah pasrah tidak bisa melakukan sisa pembayaran kepada para pemilik tanah yang nilainya mencapai Rp3 miliar. Jaji mengaku sudah tidak ada uang.

Berita Lainnya

Kepada salah satu pemilik tanah, Kades Jaji hanya bisa meminta waktu satu minggu untuk melunasi sisa pembayaran. Komitmen tersebut dibuat dalam surat pernyataan dengan Mulyana, selaku pemilik tanah di Kavling Buah Lantaburoo Tahap 2, seluas 7 hektare.

Isi surat pernyataan yang dibuat di Kantor Desa Karyamekar pada hari Jumat (29/11/2019) itu, di antaranya menyatakan apabila dalam satu minggu PT BBL melalui Kades Jaji tidak mampu membayar lunas lahan milik Mulyana di Blok Patenggeng, maka tanah yang sudah dikavling tersebut kembali akan menjadi hak pemiliknya.

“Saya sudah membuat perjanjian dengan pak Mulyana. Saya diberikan waktu seminggu untuk melunasi sisa pembayaran . Kalau tidak ditepati, maka tanah 7 hektare akan kembali diserahkan ke pak Mulyana,” papar Jaji saat dikonfirmasi wartawan di ruang kerjanya.

Kantor Pemasaran PT BBL selaku pengembang Kavling Tanah Buah Lantaburro, Bogor.

Direktur PT BBL  Sunaryo membenarkan masih ada sisa pembayaran kepada para pemilik tanah di Blok Patenggeng. Sisa yang belum dibayarkan mencapai Rp3 miliar.

“Sejak awal untuk pembayaran dipercayakan kepada lurah Jaji dengan kontrak luas tanah yang akan dibeli 35 hektare. Namun sampai saat ini lahan yang bisa diklaim oleh kami (red PT BBL)  hanya 27 hektare, itupun masih menyisakan hutang Rp3 miliar,” papar Sunaryo.

Sunaryo mengaku tidak menduga akan timbul permasalahan seperti ini. Ia menegaskan, dalam proses pembebasan lahan pihak pengembang tidak mengintervensi lurah Jaji dan timnya. “Kami kasih kewenangan penuh, mau ngambil keuntungan per meter Rp20 ribu hingga Rp30 ribu kami tutup mata,” tutur Naryo.

Pemilik lahan Mulyana menegaskan tidak akan memberikan kesempatan lagi kepada PT BBL atau tim lainnya dalam proses pelunasan tanah miliknya di Blok Patenggeng.  Menurut dia apabila dalam waktu satu minggu tidak ada itikad baik dari PT BBL maupun Jaji, tanah akan kembali ia kuasai sesuai perjanjian yang telah disepakati.

“Bukan hanya mematok seperti kemarin, tetapi sesuai kesepakatan dengan lurah Jaji yang mewakili PT BBL maka tanah kembali kami kuasai,” tandasnya. [rma]

 

Berita terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *