Langgar “Tengange”, Penyebab Lima Siswa SMP Jakarta Tewas Tenggelam di Baduy  

  • Whatsapp

INDOPOLITIKA.COM – Suku Baduy dikenal kental dengan adat istiadat serta aturannya. Siapapun yang berkunjung ke tempat ini, harus benar-benar menjaga diri dengan mengikuti seluruh aturan yang ada.

Aturan lainya, tidak berteriak-teriak di dalam kawasan Baduy, tidak memotret di area yang sudah ditentukan, tidur terpisah antara laki-laki dan perempuan yang tidak terikat ikatan suami istri, dan berhenti beraktivitas saat tengah hari “tengange”.

Baca Juga:

Aturan “tengange” ini yang disebut menjadi salah satu penyebab lima siswa SMP Budaya Santo Agustinus, Duren Sawit, Jakarta Timur, tewas tenggelam saat berenang di salah satu sungai Baduy, Jumat (25/10).

Menurut Kepala Desa suku Adat Baduy Jaro Saija, kelima siswa  yang meninggal ini melanggar aturan “tengange”. Tengange sendiri berati tengah hari ketika terik matahari tepat berada di atas bumi.

Dalam kepercayaan aturan suku adat Baduy, masyarakat tidak boleh dan harus menunda aktivitas pada saat tengange. Sebab, waktu tersebut bukanlah waktu yang baik untuk aktivitas di luar rumah. Selain kondisi udara pada puncak suhu panas, juga kurang baik untuk bekerja.

“Iya kan tadi kebetulan hari Jumat (waktu ibadah) tengange (tengah hari). Ada aturan yang sudah disampaikan di buku tamu, ketika datang ke Baduy, harus dipatuhi,” kata Saija.

Jaro menambahkan, rombongan study tour SMP tersebut sudah diperingatkan agar tidak berenang pada tengah hari. Namun ada sekitar 100 siswa berenang di lokasi. Ketinggian air diperkirakan sedalam 5 meter. “Bararadung (bandel),” kata Jaro.[asa]

 

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *