INDOPOLITIKAPerdana Menteri Jepang, Sanae Takaichi, secara mengejutkan mengumumkan pembubaran parlemen hanya tiga bulan setelah resmi menjadi PM perempuan pertama di negara itu.

Pembubaran Majelis Rendah (Dewan Perwakilan Rakyat/DPR) Jepang pada Jumat (23/1/2026) tersebut dinilai sebuah langkah yang membuka jalan bagi pemilu dini pada 8 Februari mendatang.

“Hari ini, saya sebagai perdana menteri memutuskan untuk membubarkan majelis rendah,” ujar Perdana Menteri Jepang, Sanae Takaichi dalam konferensi pers, dikutip Reuters.

“Saya mempertaruhkan masa depan politik saya sendiri sebagai PM dalam pemilihan ini. Saya ingin masyarakat menilai secara langsung apakah mereka mempercayakan saya untuk memimpin negara,” tambahnya.

Dalam pemilu ini, Takaichi menargetkan agar koalisi antara Partai LDP dan Ishin dapat mempertahankan mayoritas suara di majelis rendah.

Takaichi terpilih pada Oktober lalu sebagai perdana menteri perempuan pertama Jepang. Meski baru menjabat selama tiga bulan, ia mencatat tingkat persetujuan publik yang kuat, sekitar 70 persen. Demikian seperti dikutip dari laporan Associated Press.

Pembubaran majelis rendah yang beranggotakan 465 orang memicu dimulainya masa kampanye selama 12 hari, yang secara resmi akan dimulai pada Selasa (27/1).

Saat Ketua Majelis Rendah Fukushiro Nukaga mengumumkan pembubaran, para anggota parlemen serentak berdiri dan meneriakkan “banzai” sebanyak tiga kali, sebelum meninggalkan ruang sidang untuk bersiap menghadapi kampanye. (Red)

Cek berita dan artikel menarik lainnya di Google News Indopolitika.com