LBH Keadilan Ultimatum STIKes IMC Bintaro Soal Ijazah Mahasiswi Ditahan

  • Whatsapp
Ketua LBH Keadilan Abdul Hamim Jauzi.

INDOPOLITIKA.COM – Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Keadilan turun tangan membantu Siti Khairani, mahasiswi STIKes IMC Bintaro, lantaran dituding tanpa dasar menahan ijazah mahasiswi terkait.

Somasi pun dilayangkan kepada STIKes IMC dengan batas waktu selama 3×24 jam ke depan. Jika tak digubris, maka proses akan dilanjutkan ke meja hijau.

Baca Juga:

“Kami menyampaikan somasi, kami meminta agar pihak kampus menyerahkan ijazah dari klien kami, tapi tadi pihak kampus tetap tidak bersedia,” jelas Abdul Hamim Jauzie, Ketua LBH Keadilan ditemui usai menyerahkan surat Somasi di STIKes IMC Bintaro, kemarin.

Diterangkan Abdul Hamim, sejak awal mendapat beasiswa, sebenarnya Rani tidak mendapat kewajiban apapun untuk melaporkan capaian studinya tiap semester.

Disebutkan, jika alasan itu mengada-ada dan sengaja dibuat untuk menghalangi kliennya diwisuda dan mendapatkan ijazah.

“Ini keliru jika STIKes diintervensi oleh yayasan, kan seharusnya beda perannya. Intervensi ini atas dasar apa? ini bis kita laporkan ke Kemenristekdikti, karena mahasiswa sudah selesai studi tapi ijazah ditahan,” ujarnya.

Siti Khairani (kiri) saat bertemu pihak kampus STIKes IMC Bintaro.

Sebelumnya, Wakil Ketua II Bidang Non-Akademik STIKES IMC Bintaro Daelami Ahmad mengelak prosesi wisuda Rani telah digagalkan, melainkan hanya di ditunda.

“Jadi kalau permasalahin ini selesai,  Rani bisa wisuda tahun depan,” ucap Daelami di ruangannya.

Iaberalasan, bahwa semua ini hanyalah kesalahan paham. “Ini hanya masalah komunikasi. Semacam etika normatif saja. Kita akan atur dalam waktu satu sampai tiga hari untuk mengadakan pertemuan dengan beliau (pimpinan yayasan),” pungkasnya.

Diberitakan sebelumnya, Siti Khairani, mahasiswi Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan (STIKes) IMC, Tangerang Selatan (Tangsel) ini benar-benar tak habis pikir dengan perlakuan pihak kampusnya, yang dinilai sengaja “menggagalkan” wisudanya. Lebih parahnya lagi, ijazah mahasiswi asal Serang Banten ini turut ditahan di kampusnya.

Menurut Rani-sapaan akrab mahasiswi ini, sedianya ia akan diwisuda pada Sabtu 12 Oktober 2019 kemarin. Surat undangan wisuda, serta perlengkapan toga dan sebagainya pun telah diberikan kepadanya dari pihak kampus pada 8 Oktober 2019.

“Surat undangan sudah diberikan sebelumnya. Karena mau diwisuda pasti senangnya bukan main, lalu saya pulang ke rumah orangtua di Serang (Banten), dan mengabarkan kepada keluarga yang lain,” katanya.

Namun, jelang diwisuda hari Jumat 11 Oktober, kata dia, keluar surat keputusan dari kampus bahwa dia tak bisa mengikuti wisuda. Tertera keterangan, jika alasannya adalah Rani tak melaporkan pencapaian pendidikan yang ditempuh melalui program beasiswa.

“Saya syok juga tiba-tiba dibatalin. Alasannya nggak ada report soal pencapaian pendidikan. Jadi kata pihak kampus, harus direport setiap semester. Padahal dari waktu awal masuk kuliah, memang nggak pernah ada penjelasan itu,”  bebernya.{asa}

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *