Internasional

Lebanon Pertimbangkan Legalisasi Budidaya Ganja

Ilustrasi ganja. Medcom.id/ Syahmaidar.

Beirut: Parlemen Lebanon tengah mempertimbangkan legalisasi budaya ganja untuk tujuan medis. Upaya legalisasi ganja untuk menstimulasi pertumbuhan ekonomi yang tengah lesu.

"Parlemen Lebanon sedang menyiapkan penelitian dan memberlakukan legislasi yang diperlukan untuk mengatur budidaya ganja, dan kemudian memanfaatkannya untuk tujuan medis sebagaimana terjadi di banyak negara Eropa dan beberapa negara bagian Amerika Serikat," kata Ketua Parlemen Nabih Berri Lebanon seperti dilansir Antara, Rabu, 18 Juli 2018.

Meski saat ini budidaya ganja masih ilegal di Lebanon, banyak pemilik lahan selama beberapa puluh tahun terakhir menanam tanaman tersebut di daerah subuh Lembah Bekaa. Namun, aksi mereka tak pernah tersentuh oleh para penegak hukum.

Kantor PBB urusan Narkoba dan Kejahatan, dalam sebuah laporan tahun 2018, menempatkan Lebanon dalam urutan ketiga terbesar di dunia (setelah Moroko dan Afghanistan) untuk getah ganja yang disita oleh pemerintah.

Lebanon sendiri tengah mengalami kemandekan ekonomi sejak 2011 sebagai dampak dari gejolak keamanan kawasan. Lembaga pinjaman internasional IMF memperkirakan pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) sebanyak 1-1,5 persen pada 2017 dan 2018 ini, mengatakan bahwa sumber utama perekonomian bidang konstruksi dan lahan yasan masih lesu.

IMF juga mendesak pemerintah Lebanon untuk memberlakukan penyesuaian fiskal dengan segera dan substansial. Hal ini guna memperbaiki kesehatan rasio utang publik, yang mencapai lebih dari 150 persen dari PDB pada akhir 2017 lalu.

Untuk membantu mengubah perekonomian, Lebanon pada tahun ini melibatkan perusahaan konsultan McKinsey untuk menyusun rencana bagi sektor-sektor yang produktif.

"Salah satu pilihan bagi Lebanon dalam laporan McKinsey adalah dengan melegalisasi budidaya ganja yang kemudian akan diekspor untuk tujuan medis. Tapi laporan itu belum terbuka untuk umum karena masih menunggu izin dari pemerintah," ujar sumber pemerintah kepada Reuters

Tags

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Close
Close