Lepas Mahasiswa KKN UIN Jakarta, Mensos Bahas Tantangan Hadapi Revolusi Industri 4.0

  • Whatsapp
Mensos Lepas Peserta KKN UIN Jakarta

JAKARTA, INDOPOLITIKA – Menteri Sosial (Mensos) Agus Gumiwang Kartasasmita mengakui banyak tantangan menghadapi era Revolusi Industri 4.0. Dia menyebut digitalisasi di Era Industri 4.0 diprediksi akan menggerus beberapa lapangan kerja.

“Digitalisasi merambah industri-industri lain. Peran-peran produksi yang selama ini dikerjakan oleh tenaga manusia di era Industri 4.0 akan digantikan oleh program-program digital, sehingga banyak sektor pekerjaan yang hilang. Mesin-mesin pintar akan menggantikan banyak pekerjaan manusia, tidak hanya pekerjaan yang bersifat repetitif, seperti halnya di pabrik-pabrik, tetapi juga beragam profesi nonrepetitif, seperti akuntan, analis keuangan, konsultan, dokter, penerjemah, arsitek, dan sebagainya,” kata Agus di auditorium Harun Nasution, UIN Syarif Hidayatullah, Ciputat, Tangerang Selatan, Senin (22/7/2019).

Agus menyampaikan hal tersebut saat mengisi kuliah umum dalam rangka lepas peserta KKN 2019 dengan tema ‘Memperkuat Ketahanan Desa dalam Menghadapi Era Revolusi Industri 4.0’. Agus menyebut manusia harus memiliki kemampuan daya pikir lebih untuk bersaing di era Industri 4.0.

Dalam pemaparannya di hadapan para mahasiswa, Agus menjabarkan data dari World Economic Forum pada 2018. Dari data tersebut, Agus menyebut ada kemungkinan 133 juta pekerjaan akan hilang karena perkembangan teknologi. Sekitar 75 juta di antaranya tidak akan dilakukan oleh manusia.

“Salah satu tantangan ke depan yang dihadirkan oleh Revolusi Industri 4.0 bagi pembangunan kesejahteraan sosial adalah pengangguran massal akibat tenaga manusia digantikan oleh robot dan algoritma. Industri 4.0 mengarah pada digitalisasi yang membutuhkan kerja otak daripada kerja otot sehingga kaum blue collar atau buruh kasar akan digeser oleh kaum white collar, yang lebih mengedepankan inteligensi,” jelasnya.

Menghadapi itu, kata Agus, dibutuhkan kapasitas intelektual yang memadai. Terpenting, lanjut dia, adalah memperhatikan keterampilan dan kompetensi sumber daya manusia secara konsisten sesuai kebutuhan pasar kerja.

“Maka membangun sebuah kerangka kebijakan pembangunan kesejahteraan sosial yang inklusif bagi masyarakat perdesaan menjadi penting dan menjadi kunci. Ada dua alur yang terkait dalam respons ini, yang keduanya terkait dengan komitmen kita mengurangi angka kemiskinan dalam jangka panjang dan merespons bagaimana masyarakat bawah mampu terlibat dalam persaingan tenaga kerja di era Industri 4.0,” terangnya.

Meski ada sejumlah tantangan, Agus menyebut Industri 4.0 pada dasarnya membuka kesempatan lapangan pekerjaan yang baru bagi masyarakat. Beberapa di antaranya adalah pengelola dan analisis data digital hingga operator mesin robotik.

“Dengan teknologi digital, pengelolaan bisnis tidak lagi berpusat pada kepemilikan individual, tetapi menjadi pembagian peran atau kolaborasi atau gotong royong atau kita kenal dengan shared economy,” jelasnya.

Pos terkait

banner 468x60

Tinggalkan Balasan