Internasional

Longsor di Tambang Giok Myanmar, 27 Warga Dikhawatirkan Tewas

Ilustrasi oleh Medcom

Yangon: Tanah longsor melanda sebuah tambang batu giok di Myanmar. 27 orang dikhawatirkan tewas.
 
Industri bernilai miliaran dolar ini tidak diatur dengan baik. Sebagian besar beroperasi di wilayah Kachin yang terpencil dan sering dilanda bencana besar. Kebanyakan korban datang dari komunitas etnis yang miskin.
 
Set Mu, sebuah daerah terpencil di Myanmar diterpa hujan deras pada Selasa pagi. Hujan memicu terjadinya longsor yang mengubur sedikitnya 27 orang yang kebanyakan dari suku Rawang.
 
"Kami belum menemukan mayat satu pun. Kami akan melakukan pencarian hari ini bersama dengan Palang Merah dan Pemadam Kebakaran," kata petugas kepolisian setempat, Aung Zin Kyaw kepada AFP, Rabu 25 Juli 2018.
 
Rawang adalah salah satu kelompok etnis terkecil di Myanmar dengan sekitar 70.000 orang yang kebanyakan beragama kristen. Mereka hidup di daerah pegunungan utara dan banyak yang bekerja di sektor pertambangan tidak resmi.
 
Peraturan yang sedikit dan kurangnya pengawasan membuat kondisi di sektor pertambangan seringkali berbahaya, terutama selama musim penghujan.
 
"Sebelum musim hujan, para pekerja mencari batu giok dengan menghancurkan tanah. Saat musim hujan tanah menjadi tidak stabil dan sangat berlumpur," kata Shwe Thein, seorang penduduk setempat kepada AFP.
 
LSM Global Witness memperkirakan bahwa industri batu giok bernilai USD31 miliar atau sekitar Rp450 triliun pada tahun 2014. Namun jumlah itu sebagian besar tidak masuk kas negara.
 
Batu giok dan sumber alam lainnya seperti kayu, emas dan batu ambar membantu finansial kedua belah pihak dalam konflik antara pemberontak etnis Kachin dan militer saat bertemput selama beberapa dekade untuk mengendalikan tambang dan pendapatan mereka.
 
Lebih dari 100.000 orang mengungsi berkali-kali karena pertempuran sejak gencatan senjata 17 tahun yang pecah pada tahun 2011.
 
Saat pemimpin sipil berkuasa pada tahun 2016, Aung San Suu Kyi mengatakan bahwa mengakhiri tiap konflik di negaranya adalah prioritas utama tetapi perdamaian yang sedang berlangsung belum memberikan hasil yang signifikan. (Khalisha Firsada)

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Close
Close